Bisnis Properti Membaik, LPKR Cetak Rp1,32 Triliun dari Real Estate Development

loading...
Bisnis Properti Membaik, LPKR Cetak Rp1,32 Triliun dari Real Estate Development
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatat kenaikan pendapatan dari bisnis Real Estate Development sebesar 33,9% mencapai Rp1,32 triliun. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatat kenaikan pendapatan dari bisnis Real Estate Development sebesar 33,9% menjadi Rp1,32 triliun di semester I/2020, dibandingkan Rp983 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut disumbang oleh pendapatan anak usaha perseroan yakni PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).

" Bisnis properti terus menunjukkan tanda-tanda perbaikan dimana marketing sales pada semester I/2020 meningkat 26% diakhir Juni 2020 menjadi Rp1,05 triliun dari Rp835 miliar pada periode yang sama tahun lalu," ujar CEO LPKR John Riady di Jakarta, Kamis (30/7/2020).

(Baca Juga: Kuartal I/2020, Penjualan Pemasaran LPKR Tembus 42% dari Target Rp2,5 Triliun)

John mengatakan, pendapatan LPCK meningkat sebesar 58,9% menjadi Rp1,09 triliun di semester I/2020 dari Rp686 miliar pada semester I/2019. Sumbangan pendapatan LPCK ini membuat total pendapatan perseroan menjadi Rp5,28 triliun di akhir Juni 2020.



Lebih lanjut John menuturkan, di semester I/2020 laba bruto perseroan sebesar Rp2,12 triliun atau naik tipis dibandingkan dengan Rp2,06 triliun pada semester I/2019. Sedangkan untuk EBITDA Konsolidasian meningkat 81,5% menjadi Rp969 miliar pada akhir Juni 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp534 miliar.

John menuturkan, secara keseluruhan Marjin EBITDA perseroan telah membaik menjadi 18% di semester I/2020 dari 10% di semester I/2019. Namun, sesuai dengan kebijakan akuntansi mark to market, sehubungan dengan obligasi yang diterbitkan, perseroan mengalami rugi selisih kurs tak terealisasi.

"Pada kuartal II/2020, kami melaporkan laba selisih kurs tak terealisasi sebesar Rp1,9 triliun karena Rupiah menguat terhadap USD dan hampir mengimbangi kerugian forex yang belum direalisasi sebesar Rp446 miliar di semester I/2020. Karena rupiah terdepresiasi terhadap USD, LPKR melaporkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp864 miliar pada kuartal kedua 2020, namun ini tidak dapat mengimbangi rugi bersih pada kuartal pertama 2020," jelas John.

Menurut John, pelepasan lindung nilai secara proaktif, peluncuran obligasi, obligasi tambahan dan divestasi First REIT membantu memperkuat neraca perseroan pada semester I/2020. LPKR memperkuat posisi kasnya dan memperbaiki jatuh tempo utangnya dengan pembiayaan kembali obligasinya dari 2022 menjadi 2025.

(Baca Juga: Ingin Bisnis Properti Tetap Jalan Saat Pandemi, Ikuti Lima Langkah Ini)

Saldo kas dan setara kas pada semester I/2020 sebesar Rp4,54 triliun dibandingkan dengan Rp4,69 triliun pada akhir tahun 2019. Perseroan meningkatkan saldo kas sebesar Rp860 miliar dengan melepas posisi lindung nilai yang ada dan menggantinya dengan lindung nilai collar pada Rp15,000 hingga Rp17,500 serta menambah kas sebesar Rp249 miliar dari pelepasan saham First REIT.



Perseroan melaporkan total utang yang lebih tinggi dalam rupiah, mencapai Rp13,44 triliun pada semester I/2020 dibanding dengan Rp12,25 triliun pada akhir tahun 2019, terutama disebabkan oleh kenaikan utang bank jangka pendek, dari ICBC sebesar Rp100 miliar, BNI sebesar Rp170 miliar dan Bank Mandiri sebesar Rp400 miliar. Sebagai hasilnya, rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi 0,28x pada semester I/2020 dibandingkan dengan 0,22x pada kuartal empat 2019.

"Perseroan menjajaki peluang untuk mendiversifikasi sebagian utang dari USD, dengan lebih banyak utang dalam mata uang Rupiah, karena saat ini utang berdenominasi USD sebesar 86% dari total utang," jelas John.

Dia memaparkan, meskipun pandemi global baru-baru ini mempengaruhi pendapatan recurring perseroan dari rumah sakit, mal dan hotel secara signifikan. Namun LPKR terus menunjukkan kemajuan pada bisnis real estate development kami yang tumbuh sebesar 33,9% pada semester I/2020.

"Saya percaya bahwa bisnis properti sedang pulih dan akan terus bertumbuh dimana Lippo Karawaci terus membangun proyek rumah hunian yang terjangkau sesuai dengan keinginan para penghuni perumahan kami," katanya.

John optimistis, dengan tingkat kepemilikan rumah di Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, serta tingkat pinjaman KPR di Indonesia masih di bawah 5% dari PDB, pasar kepemilikan rumah perdana masih prospektif di pasar.

"Ini memberikan peluang per generasi bagi perusahaan seperti kami untuk memenuhi permintaan ini dan turut serta dalam memperbaiki hidup lebih dari 80 juta orang yang merupakan bagian dari kelas menengah Indonesia yang meningkat," pungkas John.
(fai)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top