alexametrics

Sejarah Freeport di Indonesia 3 (Selesai): Gunung Emas Bernama Grasberg

loading...
Sejarah Freeport di Indonesia 3 (Selesai): Gunung Emas Bernama Grasberg
Tambang Grasberg di Papua. Foto/YouTube
A+ A-
SEPULUH tahun setelah beroperasi, PT Freeport Indonesia mengalami masalah. Pasalnya, kandungan bijih di Ertsberg mulai menipis. Hal ini ditambah dengan anjloknya harga tembaga di pasaran dunia karena mulai digunakannya serat optik dan alumunium sebagai pengganti kawat tembaga saat itu. Harga tembaga pun melorot berkisar 60 sen sampai 70 sen dolar AS per pon.

Freeport pun gamang. Beberapa dewan direktur mulai berpikir untuk melego operasi mereka di Irian Jaya dan mencari peluang bisnis lain yang lebih menguntungkan. Namun, beberapa manajer Freeport yakin masih banyak tembaga di wilayah tersebut, apalagi kondisi geologis sangat mendukung keyakinan tersebut.



Di saat pergulatan batin, perubahan terjadi di induk perusahaan. Freeport Sulphur yang telah bersalin nama menjadi Freeport Minerals Company bergabung dengan McMoRan Oil and Gas. Perusahaan yang dibentuk tahun 1967 ini, merupakan akronim dari tiga pendirinya: William Kennon McWilliams Jr (“Mc”), James Robert Moffet (“Mo”), yang merupakan geolog perminyakan dan Byron McLean Rankin Jr (“Ran”), seorang ahli pemasaran dan penjualan.

Pernikahan kedua perusahaan ini di tahun 1981, membuat namanya berubah menjadi Freeport-McMoRan Incorporated. Seiring dengan itu, tampuk kepemimpinan pun berubah. James Robert Moffet atau yang dikenal dengan Jim Bob ditunjuk sebagai chief executive officer. Mereka juga melakukan perubahan landasan operasi, dengan memindahkan kantor pusat dari New York ke New Orleans di Negara Bagian Louisiana.

Mendapat posisi puncak, Jim Bob langsung memerintahkan seluruh awaknya untuk meningkatkan upaya eksplorasi. Selama bertahun-tahun, ahli geologi Freeport Dave Potter bersama rekan-rekannya hanya memandang Grasberg sebagai gunung rumput dari tepi Ertsberg.

Di saat harga tembaga menukik, harga emas menunjukkan kemilaunya, yaitu USD450 per troy ons (t.oz). Freeport pun langsung demam emas. Potter yang sebelumnya hanya memandang Grasberg, dipindahkan ke bagian eksplorasi pada operasi penambangan.

“Pikiran saya hanya tertuju pada emas. Karena saya tidak terlalu berpengalaman dalam sistem tembaga porfiri. Setelah saya pikirkan kembali, barangkali hal itu ada baiknya. Karena dengan demikian, saya tidak terpengaruh oleh pendapat yang menyatakan bahwa di sana tidak terdapat apa-apa!,” ujarnya seperti dikutip dalam buku Grasberg: Mining the richest and most remote deposit of copper and gold in the world, in the mountains of Irian Jaya Indonesia.
halaman ke-1 dari 4
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak