Tak Gabung dengan BRICS, Indonesia Takut Dicap Anti-Barat?
Senin, 28 Agustus 2023 - 14:40 WIB
loading...
A
A
A
"Citra Indonesia yang dipandang sebagai bagian dari dunia China-Rusia akan menjadi masalah," ujarnya. "Apalagi Indonesia sangat mengedepankan kebijakan luar negerinya yang bebas-aktif. Bagaimana Anda bisa menjualnya ke negara lain, sementara berada di grup yang sama dengan China dan Rusia?"
Indonesia adalah salah satu anggota pendiri Gerakan Non-Blok selama Perang Dingin dan selama beberapa dekade telah menganut pendekatan "bebas-aktif", atau pendekatan kebijakan luar negeri yang independen dan aktif, termasuk mengambil peran dalam menengahi perdamaian di seluruh dunia, yang ditunjukkan ketika Presiden Jokowi mengunjungi Rusia dan Ukraina Juni tahun lalu.
Sementara, Dosen Hubungan Internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung Yohanes Sulaiman mengatakan, tidak ada manfaatnya bagi Indonesia untuk bergabung dengan BRICS. "Kami belum melihat hasil nyata apa pun dari BRICS selain sebagai kelompok untuk melawan Amerika Serikat dan tampaknya tidak ada kemajuan nyata yang dicapai," katanya kepada Al Jazeera.
Meskipun BRICS telah membentuk dirinya sebagai sebuah blok yang memperjuangkan negara-negara Selatan - dengan membentuk New Development Bank (NBD) sebagai alternatif dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, dan bahkan membuka kemungkinan mata uang baru - terdapat persepsi bahwa kelompok negara-negara ini merupakan aliansi anti-Barat. Persepsi yang berkembang itu dinilai dapat mempersulit hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat.
Di bagian lain, pekan lalu pemerintah Indonesia dan produsen pesawat AS, Boeing. sepakat untuk menyelesaikan penjualan 24 jet tempur F-15EX ke Jakarta menyusul kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto ke Washington DC.
Sulaiman mengatakan bahwa lebih masuk akal bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari kelompok seperti ASEAN dengan negara-negara tetangganya, daripada berkelompok dengan negara-negara yang tidak memiliki hubungan sejarah atau perdagangan dengan Indonesia.
Indonesia adalah salah satu anggota pendiri Gerakan Non-Blok selama Perang Dingin dan selama beberapa dekade telah menganut pendekatan "bebas-aktif", atau pendekatan kebijakan luar negeri yang independen dan aktif, termasuk mengambil peran dalam menengahi perdamaian di seluruh dunia, yang ditunjukkan ketika Presiden Jokowi mengunjungi Rusia dan Ukraina Juni tahun lalu.
Sementara, Dosen Hubungan Internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung Yohanes Sulaiman mengatakan, tidak ada manfaatnya bagi Indonesia untuk bergabung dengan BRICS. "Kami belum melihat hasil nyata apa pun dari BRICS selain sebagai kelompok untuk melawan Amerika Serikat dan tampaknya tidak ada kemajuan nyata yang dicapai," katanya kepada Al Jazeera.
Meskipun BRICS telah membentuk dirinya sebagai sebuah blok yang memperjuangkan negara-negara Selatan - dengan membentuk New Development Bank (NBD) sebagai alternatif dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, dan bahkan membuka kemungkinan mata uang baru - terdapat persepsi bahwa kelompok negara-negara ini merupakan aliansi anti-Barat. Persepsi yang berkembang itu dinilai dapat mempersulit hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat.
Di bagian lain, pekan lalu pemerintah Indonesia dan produsen pesawat AS, Boeing. sepakat untuk menyelesaikan penjualan 24 jet tempur F-15EX ke Jakarta menyusul kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto ke Washington DC.
Sulaiman mengatakan bahwa lebih masuk akal bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari kelompok seperti ASEAN dengan negara-negara tetangganya, daripada berkelompok dengan negara-negara yang tidak memiliki hubungan sejarah atau perdagangan dengan Indonesia.
Lihat Juga :