Sinyal Dedolarisasi Makin Kuat, Pengaruh Dolar di Pasar Minyak Mulai Hilang
Selasa, 05 September 2023 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Namun, harga minyak mentah Brent tercatat hanya turun 0,2% dengan kenaikan 1% pada dolar AS antara tahun 2014 dan 2022, yang menunjukkan berkurangnya pengaruh greenback dalam perdagangan komoditas tersebut. JPMorgan dalam laporannya menyimpulkan, tren ini terjadi karena lebih banyak minyak yang ditransaksikan dalam mata uang non-dolar, seperti yuan China.
Memang, pembeli utama energi - China - telah menggunakan yuan untuk hampir seluruh minyak Rusia yang dibelinya selama setahun terakhir, menurut laporan Reuters pada bulan Mei, mengutip beberapa eksekutif perdagangan yang mengetahui langsung masalah tersebut. Minyak Rusia – yang kini tunduk pada pembatasan perdagangan internasional – juga dijual dalam mata uang lokal pembeli atau dalam mata uang negara-negara yang dianggap bersahabat oleh Rusia, tambah Kaneva dalam laporannya.
"Secara keseluruhan, kami menemukan bahwa pentingnya dolar telah menurun secara signifikan dari tahun 2014 hingga 2022," ungkap Jahangir Aziz, kepala penelitian ekonomi pasar berkembang di JP Morgan, dalam laporan tersebut.
Dia mengatakan sulit untuk mengabaikan perubahan ini, bahkan jika hal ini disebabkan oleh penguatan dolar pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik – seperti sanksi yang dilakukan negara-negara Barat terhadap Rusia atas invasi mereka ke Ukraina yang membuat negara-negara lain waspada terhadap potensi konsekuensi jika berseberangan dengan Washington.
Baca Juga: Vladimir Putin: De-dolarisasi Tidak Dapat Diubah
Memang, pembeli utama energi - China - telah menggunakan yuan untuk hampir seluruh minyak Rusia yang dibelinya selama setahun terakhir, menurut laporan Reuters pada bulan Mei, mengutip beberapa eksekutif perdagangan yang mengetahui langsung masalah tersebut. Minyak Rusia – yang kini tunduk pada pembatasan perdagangan internasional – juga dijual dalam mata uang lokal pembeli atau dalam mata uang negara-negara yang dianggap bersahabat oleh Rusia, tambah Kaneva dalam laporannya.
"Secara keseluruhan, kami menemukan bahwa pentingnya dolar telah menurun secara signifikan dari tahun 2014 hingga 2022," ungkap Jahangir Aziz, kepala penelitian ekonomi pasar berkembang di JP Morgan, dalam laporan tersebut.
Dia mengatakan sulit untuk mengabaikan perubahan ini, bahkan jika hal ini disebabkan oleh penguatan dolar pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik – seperti sanksi yang dilakukan negara-negara Barat terhadap Rusia atas invasi mereka ke Ukraina yang membuat negara-negara lain waspada terhadap potensi konsekuensi jika berseberangan dengan Washington.
Baca Juga: Vladimir Putin: De-dolarisasi Tidak Dapat Diubah
Lihat Juga :