Mentan SYL Dikabarkan Hilang di Eropa Usai Diterpa Isu Jadi Tersangka Korupsi oleh KPK
Selasa, 03 Oktober 2023 - 17:25 WIB
loading...
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) tidak diketahui keberadaannya setelah dikabarkan telah ditetapkan tersangka korupsi oleh KPK. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Keberadaan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) tidak diketahui pascakunjungan kerja ke beberapa negara di Eropa. Sempat dikabarkan bertolak ke Jakarta pada Minggu (1/9/2023) lalu, namun hingga saat ini keberadaan Mentan SYL tidak ada yang mengetahui bahkan Wakilnya sendiri, Harvick Hasnul Qolbi.
"Jadi sampai hari ini kita terus mencari keberadaan pak Menteri karena memang sampai detik ini kita belum ada kabar mengenai keberadaan pak Menteri SYL," kata Wamentan Harvick di Istana Negara, Selasa (3/9/2023).
Baca Juga: Penyidik KPK Bawa 5 Koper Usai Geledah Kantor Kementan
Harvick menjelaskan, saat kunjungan kerja Mentan SYL ke Eropa memang didamping oleh beberapa pejabat Eselon I Kementerian Pertanian. Seperti Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto, dan Dirjen Prasarana dan Saran Pertanian (PSP) Ali Jamil.
Tapi menurutnya rombongan Kementan itu tidak berada dalam rute perjalanan yang sama saat bertolak ke Jakarta. Hal itu dikatan Harvick disebabkan oleh keterbatasan okupansi pesawat, sehingga rombongan Kementan harus beda maskapai.
"Jadi sampai hari ini kita terus mencari keberadaan pak Menteri karena memang sampai detik ini kita belum ada kabar mengenai keberadaan pak Menteri SYL," kata Wamentan Harvick di Istana Negara, Selasa (3/9/2023).
Baca Juga: Penyidik KPK Bawa 5 Koper Usai Geledah Kantor Kementan
Harvick menjelaskan, saat kunjungan kerja Mentan SYL ke Eropa memang didamping oleh beberapa pejabat Eselon I Kementerian Pertanian. Seperti Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto, dan Dirjen Prasarana dan Saran Pertanian (PSP) Ali Jamil.
Tapi menurutnya rombongan Kementan itu tidak berada dalam rute perjalanan yang sama saat bertolak ke Jakarta. Hal itu dikatan Harvick disebabkan oleh keterbatasan okupansi pesawat, sehingga rombongan Kementan harus beda maskapai.
Lihat Juga :