Deflasi Jadi Sinyal Daya Beli Masyarakat Kritis Akibat Pandemi
Selasa, 04 Agustus 2020 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
Piter menuturkan, deflasi atau inflasi yang sangat rendah masih berpotensi terjadi selama wabah Covid-19 masih berlangsung. Bahkan kondisi ini diprediksi masih akan berlanjut hingga awal tahun depan.
Pengamat ekonomi Josua Pardede menilai, tekanan inflasi yang rendah mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat cenderung masih dalam tren menurun dari awal tahun hingga awal kuartal III/2020 ini. Hal ini karena masyarakat menengah ke bawah penghasilannya menurun akibat pandemi Covid-19 .
Menurut dia, kebijakan PSBB di berbagai daerah telah membuat penurunan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor nonformal. “Ini karena peraturan PSBB dan sebagian yang bekerja di sektor formal pun mengalami PHK atau dirumahkan oleh perusahaan sehingga pada akhirnya mendorong penurunan pengeluaran,” ungkap Josua.
Penurunan daya beli juga diperparah oleh sikap masyarakat berpenghasilan menengah ke atas yang menahan konsumsi dan bahkan cenderung memilih uangnya ditaruh di bank. Apalagi, dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang diharapkan bisa mendongkrak daya beli masyarakat, tingkat penyerapannya masih rendah.
Wajar saja jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mutung kepada para menteri yang masih dinilai kurang peka terhadap krisis ekonomi yang terjadi. Dari jumlah anggaran PEN senilai Rp695 triliun, baru 20% yang terealisasi sebesar Rp141 triliun. “Sekali lagi baru 20%. Masih kecil sekali,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin. (Baca juga: Analisis: AS Tampaknya Coba Hadang Israel Caplok Tepi Barat)
Dia mengatakan, realisasi paling besar ada di sektor perlindungan sosial yang mencapai 38%. Disusul sektor stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yakni 25%.
Pengamat ekonomi Josua Pardede menilai, tekanan inflasi yang rendah mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat cenderung masih dalam tren menurun dari awal tahun hingga awal kuartal III/2020 ini. Hal ini karena masyarakat menengah ke bawah penghasilannya menurun akibat pandemi Covid-19 .
Menurut dia, kebijakan PSBB di berbagai daerah telah membuat penurunan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor nonformal. “Ini karena peraturan PSBB dan sebagian yang bekerja di sektor formal pun mengalami PHK atau dirumahkan oleh perusahaan sehingga pada akhirnya mendorong penurunan pengeluaran,” ungkap Josua.
Penurunan daya beli juga diperparah oleh sikap masyarakat berpenghasilan menengah ke atas yang menahan konsumsi dan bahkan cenderung memilih uangnya ditaruh di bank. Apalagi, dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang diharapkan bisa mendongkrak daya beli masyarakat, tingkat penyerapannya masih rendah.
Wajar saja jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mutung kepada para menteri yang masih dinilai kurang peka terhadap krisis ekonomi yang terjadi. Dari jumlah anggaran PEN senilai Rp695 triliun, baru 20% yang terealisasi sebesar Rp141 triliun. “Sekali lagi baru 20%. Masih kecil sekali,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin. (Baca juga: Analisis: AS Tampaknya Coba Hadang Israel Caplok Tepi Barat)
Dia mengatakan, realisasi paling besar ada di sektor perlindungan sosial yang mencapai 38%. Disusul sektor stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yakni 25%.
Lihat Juga :