Deflasi Jadi Sinyal Daya Beli Masyarakat Kritis Akibat Pandemi
Selasa, 04 Agustus 2020 - 09:04 WIB
loading...
Foto/dok
A
A
A
JAKARTA - Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan pada Juli 2020 terjadi deflasi sebesar 0,10% sungguh bukan berita menggembirakan. Deflasi bisa jadi sinyal kondisi daya beli masyarakat sudah mengkhawatirkan akibat pandemi Covid-19.
Bahkan bagi Kepala BPS Suhariyanto, deflasi pada Juli 2020 ini sangat tidak wajar. Pasalnya, deflasi terjadi pada bulan kedua pasca-Idulfitri yang biasanya harga kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya masih mengalami kenaikan.
“Apakah wajar di bulan kedua sesudah Ramadhan dan Lebaran malah deflasi ? Coba kita lihat 2019, dua bulan sesudah Ramadhan dan Lebaran apakah terjadi deflasi? Tidak. Itu (deflasi) terjadinya bulan ketiga,” kata Suhariyanto di Jakarta kemarin. (Baca: Juli terjadi Deflasi, Biaya Sekolah Tetap Masih Mahal)
Suhariyanto mengaku dampak pandemi Covid-19 sangat memengaruhi pergerakan inflasi tahun ini. “Seperti saya sampaikan, pergerakan inflasi tahun ini beda jauh dengan tahun sebelumnya karena Covid-19,” tuturnya.
Dia menambahkan, tahun sebelumnya ketika keadaan normal, Ramadhan dan Lebaran jadi puncak tingginya inflasi. Hal itu wajar mengingat permintaan meningkat dan uang beredar pun banyak. Akan tetapi, kondisi sekarang ini berbanding terbalik. “Namun, itu tidak terjadi tahun ini, ya memang tidak wajar karena situasinya memang tidak normal,” jelasnya.
Menurut pengamat ekonomi Piter Abdullah, deflasi secara teori tidak menguntungkan perekonomian Indonesia. Hal tersebut karena deflasi merefleksikan rendahnya permintaan masyarakat. Selain itu, deflasi juga tidak memberikan insentif kepada dunia usaha untuk berproduksi. (Baca juga: Mengaku HRD, Sopir Angkot Peras dan Tiduri Empat Wanita Pencari Kerja)
Bahkan bagi Kepala BPS Suhariyanto, deflasi pada Juli 2020 ini sangat tidak wajar. Pasalnya, deflasi terjadi pada bulan kedua pasca-Idulfitri yang biasanya harga kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya masih mengalami kenaikan.
“Apakah wajar di bulan kedua sesudah Ramadhan dan Lebaran malah deflasi ? Coba kita lihat 2019, dua bulan sesudah Ramadhan dan Lebaran apakah terjadi deflasi? Tidak. Itu (deflasi) terjadinya bulan ketiga,” kata Suhariyanto di Jakarta kemarin. (Baca: Juli terjadi Deflasi, Biaya Sekolah Tetap Masih Mahal)
Suhariyanto mengaku dampak pandemi Covid-19 sangat memengaruhi pergerakan inflasi tahun ini. “Seperti saya sampaikan, pergerakan inflasi tahun ini beda jauh dengan tahun sebelumnya karena Covid-19,” tuturnya.
Dia menambahkan, tahun sebelumnya ketika keadaan normal, Ramadhan dan Lebaran jadi puncak tingginya inflasi. Hal itu wajar mengingat permintaan meningkat dan uang beredar pun banyak. Akan tetapi, kondisi sekarang ini berbanding terbalik. “Namun, itu tidak terjadi tahun ini, ya memang tidak wajar karena situasinya memang tidak normal,” jelasnya.
Menurut pengamat ekonomi Piter Abdullah, deflasi secara teori tidak menguntungkan perekonomian Indonesia. Hal tersebut karena deflasi merefleksikan rendahnya permintaan masyarakat. Selain itu, deflasi juga tidak memberikan insentif kepada dunia usaha untuk berproduksi. (Baca juga: Mengaku HRD, Sopir Angkot Peras dan Tiduri Empat Wanita Pencari Kerja)
Lihat Juga :