5 Kesalahpahaman Soal Gunung Utang AS Senilai Rp510.412 Triliun

Kamis, 23 November 2023 - 06:35 WIB
loading...
5 Kesalahpahaman Soal...
Tumpukan utang Amerika Serikat (AS) mungkin terlihat seperti masalah yang mengerikan bagi negara adidaya tersebut, tapi para ahli mengatakan, ada beberapa kesalahpahaman umum. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Tumpukan utang Amerika Serikat (AS) mungkin terlihat seperti masalah yang mengerikan bagi negara adidaya tersebut, tapi para ahli mengatakan, ada beberapa kesalahpahaman umum. Salah satunya tentang apa arti dari gunung utang AS yang terus bertambah besar.

Baca Juga: Utang Amerika Tembus USD33 Triliun, Miliarder Ini Memperingatkan Soal Krisis

Utang nasional AS baru saja melampaui USD33 triliun atau setara Rp510.412 triliun (Kurs Rp15.467 per USD) untuk pertama kalinya, imbas lonjakan pengeluaran setelah pandemi. Beban utang negara kemungkinan bakal melonjak lebih tinggi, dimana menurut proyeksi dari Kantor Anggaran Kongres bisa tembus USD50 triliun dalam 10 tahun ke depan.

Baca Juga: Wow! Utang Publik AS Melebihi PDB Gabungan China, Jepang, Jerman, dan India

Kondisi tersebut mungkin menimbulkan masalah di kemudian hari bagi AS, terutama dalam konteks kenaikan suku bunga. Tetapi para ahli menjelaskan, bahwa ada kesalahpahaman besar yang beredar di sekitar masalah utang AS yang dapat membuat beban utang negara tampak lebih mengerikan daripada yang sebenarnya.

Berikut 5 kesalahpahaman tentang beban utang negara AS:

1. AS Harus Melunasi USD33 Triliun

Secara teknis, AS perlu membayar bunga utangnya, dan pokok obligasi pemerintah yang jatuh tempo. Tapi sebenarnya, negara-negara secara umum tidak sepenuhnya membayar utang setelah menghasilkan saldo besar, seperti disampaikan oleh ekonom, Nobel Paul Krugman. Seperti halnya Inggris Raya, yang masih memegang utang yang ditimbulkannya selama perang Napoleon.

AS hanya mengeluarkan USD395 miliar untuk membayar utangnya tahun lalu, menurut Kantor Manajemen dan Anggaran. Angka itu sekitar 1% dari PDB tahun lalu.

Namun para ekonom mengatakan, biaya pembayaran utang bisa meningkat secara dramatis di tahun-tahun mendatang. Biaya utang tahunan AS mencapai USD1 triliun per kuartal terakhir, menurut analisis Bloomberg.

Sementara itu ada sekitar USD7,6 triliun obligasi pemerintah yang akan jatuh tempo selama tahun depan, menurut analisis September dari perusahaan riset Apollo. Itu sekitar sepertiga dari total saldo, atau seperempat dari seluruh PDB Amerika.

2. Saldo Utang Terlalu Tinggi

Neraca utang publik sebenarnya perlu dievaluasi dalam kaitannya dengan PDB. Rasio utang terhadap PDB AS melayang sekitar 97% tahun lalu, di bawah ambang batas yang menjadi kunci 100%.

"(USD33 triliun] tidak ada artinya. Ini benar-benar dalam konteks PDB, sumber daya yang tersedia untuk memanfaatkan bunga pembayaran pokok utang itu," menurut kepala ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi.

"Kesalahan umum yang dilakukan orang adalah mereka mengutip angka-angka besar ini, tetapi gagal mengenali bahwa ada beberapa angka sangat besar yang mendukung utang itu," tambahnya.

Dalam artian, bisa disebutkan bahwa AS mempunyai kemampuan untuk membayar utang tersebut.

3. Utang Buruk bagi Ekonomi AS

Utang membantu pemerintah menjalankan fungsi-fungsi penting. Selain itu utang juga membantu mendanai investasi penting seperti inisiatif perubahan iklim dan membangun infrastruktur baru.

"Dalam kasus pemerintah, menggunakan utang adalah cara yang sangat tepat dan dibutuhkan untuk membiayai banyak (proyek) dari apa yang mereka lakukan," tambah Zandi.

"Orang-orang menjadi sangat cemas ketika pemerintah meminjam, dan itu adalah kesalahan. Pemerintah butuh untuk berada di luar sana meminjam uang, karena investasi jangka panjang yang dibuatnya dalam perekonomian," bebernya.

4. AS Perlu Melunasi Utang dengan Cepat untuk Mencegah Krisis

Zandi menerangkan, AS tidak berisiko langsung mengalami krisis utang, meskipun beberapa masalah kemungkinan muncul di sepanjang jalan mengingat tingkat pengeluaran saat ini.

AS dapat memadamkan kekhawatiran di kalangan investor pasar obligasi dengan memoderasi pengeluarannya sehubungan dengan PDB dan tingkat suku bunga saat ini, atau dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Beberapa meramalkan, AS masih terlalu cepat untuk jatuh ke dalam krisis utang, dimana Fed Atlanta memperkirakan pertumbuhan PDB capai 5% selama kuartal ketiga.

5. Masalah Utang Amerika itu Unik

Meningkatnya tingkat utang adalah masalah di seluruh dunia. Masalah utang China sekarang menggerogoti sektor properti negara Tirai Bambu tersebut. Negara-negara Timur Tengah juga bermain-main dengan krisis utang, dan neraca utang di seluruh dunia kemungkinan akan cenderung naik untuk tahun-tahun mendatang, menurut ekonom Dana Moneter Internasional (IMF).

"Ini lebih merupakan masalah utang negara yang lebih luas yang mulai berkembang. Jadi saya pikir ini menjadi masalah, kecuali pembuat kebijakan mengubah kebijakan atau ekonomi jauh lebih baik daripada yang diantisipasi," kata Zandi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Trump Caci Maki Netanyahu:...
Trump Caci Maki Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak Denganmu!
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
Rekomendasi
Aldi Taher Ungkap Rahasia...
Aldi Taher Ungkap Rahasia Rezeki Lancar, Kuncinya Muliakan Ibu dan Rajin Salat
8 Olahraga yang Pernah...
8 Olahraga yang Pernah Dilakukan Rasulullah SAW, Lengkap dengan Dalilnya
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Berita Terkini
IHSG Babak Belur Jelang...
IHSG Babak Belur Jelang Akhir Pekan, Sesi Siang Ditutup Ambruk 2,73% ke 5.835
Kepuasan Peserta TASPEN...
Kepuasan Peserta TASPEN Terus Membaik, Catat Rekor Positif Sejak Empat Tahun Lalu
Manjakan Nasabah Premium,...
Manjakan Nasabah Premium, BRI dan Visa Luncurkan Kartu Kredit Infinite dengan Fasilitas Kelas Dunia
JEC Eye Hospitals &...
JEC Eye Hospitals & Clinics Raih Marketeers OMNI Brands of the Year 2026
Kolaborasi Strategis...
Kolaborasi Strategis Pegadaian dan Pupuk Kaltim: Langkah Nyata Menuju Indonesia Emas
Bank Bangkrut di Indonesia...
Bank Bangkrut di Indonesia Tambah Lagi, Izin Dicabut OJK Akibat Penyehatan Modal Gagal
Infografis
5 Bank BUMN Diguyur...
5 Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Segini Rincian Porsinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved