Mayoritas Warga Yakin Indonesia Mampu Keluar dari Krisis Ekonomi
Senin, 10 Agustus 2020 - 08:35 WIB
loading...
A
A
A
Demikian pula warga yang menganggap kondisi ekonomi rumah tangga dan ekonomi nasional lebih baik akan cenderung memiliki penilaian lebih positif kehadiran investasi asing dibandingkan warga yang menganggap kondisi ekonomi rumah tangga dan ekonomi nasional jauh lebih buruk. (Baca juga: Anies Baswedan Bikin Keok Kang Emil, Ganjar dan Khofifah)
Menurut Saidiman, temuan ini penting untuk diperhatikan pemerintah mengingat peningkatan investasi asing adalah satu di antara strategi utama yang diperlukan untuk menggenjot ekonomi nasional. “Kehadiran RUU Cipta Kerja misalnya dikatakan bertujuan untuk membuat iklim investasi asing di Indonesia menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Saidiman, sangat penting untuk memahami sikap masyarakat tentang investasi asing dalam hubungannya dengan perbaikan ekonomi nasional. “Sentimen positif publik terhadap investasi tentu diharapkan ikut membantu menciptakan iklim kondusif bagi investasi di Indonesia,” katanya.
Temuan survei nasional SMRC menunjukkan masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk membangun sikap positif tersebut. Dalam pemaparannya, Saidiman menunjukkan ada perbedaan penilaian terhadap investasi asing di antara warga perkotaan dan perdesaan, demikian juga antarwilayah DKI dan Banten dengan wilayah-wilayah lainnya.
Sekitar 42% warga kota menganggap investasi asing membawa pengaruh positif, sementara hanya 32% warga perdesaan setuju dengan pendapat itu. Di DKI dan Banten, 51% warga menganggap investasi asing membawa pengaruh positif, sementara di Jawa Barat hanya 45% warga berpandangan sama. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi lainnya, persentase warga yang setuju investasi asing membawa efek positif hanya berada di kisaran 30-35%.
Perbedaan cara pandang juga terlihat di antara warga berpendidikan rendah dan lebih tinggi, serta antara warga yang berpenghasilan rendah dan lebih tinggi. Di kalangan warga yang berpendidikan SD, hanya 34% yang menganggap positif investasi asing, sementara 44% warga berlatar belakang perguruan tinggi menganggap positif investasi asing. (Baca juga: Jet Tempur Patungan Korsel-Indonesia Akan Gunakan Radar Array)
Demikian pula, hanya 34% warga berpenghasilan di bawah Rp1 juta/bulan yang menilai investasi asing membawa perbaikan ekonomi, sementara sekitar 41% warga yang berpendapatan di atas Rp4 juta/bulan menilai investasi asing positif bagi perbaikan ekonomi Indonesia.
Menurut Saidiman, temuan ini penting untuk diperhatikan pemerintah mengingat peningkatan investasi asing adalah satu di antara strategi utama yang diperlukan untuk menggenjot ekonomi nasional. “Kehadiran RUU Cipta Kerja misalnya dikatakan bertujuan untuk membuat iklim investasi asing di Indonesia menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Saidiman, sangat penting untuk memahami sikap masyarakat tentang investasi asing dalam hubungannya dengan perbaikan ekonomi nasional. “Sentimen positif publik terhadap investasi tentu diharapkan ikut membantu menciptakan iklim kondusif bagi investasi di Indonesia,” katanya.
Temuan survei nasional SMRC menunjukkan masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk membangun sikap positif tersebut. Dalam pemaparannya, Saidiman menunjukkan ada perbedaan penilaian terhadap investasi asing di antara warga perkotaan dan perdesaan, demikian juga antarwilayah DKI dan Banten dengan wilayah-wilayah lainnya.
Sekitar 42% warga kota menganggap investasi asing membawa pengaruh positif, sementara hanya 32% warga perdesaan setuju dengan pendapat itu. Di DKI dan Banten, 51% warga menganggap investasi asing membawa pengaruh positif, sementara di Jawa Barat hanya 45% warga berpandangan sama. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi lainnya, persentase warga yang setuju investasi asing membawa efek positif hanya berada di kisaran 30-35%.
Perbedaan cara pandang juga terlihat di antara warga berpendidikan rendah dan lebih tinggi, serta antara warga yang berpenghasilan rendah dan lebih tinggi. Di kalangan warga yang berpendidikan SD, hanya 34% yang menganggap positif investasi asing, sementara 44% warga berlatar belakang perguruan tinggi menganggap positif investasi asing. (Baca juga: Jet Tempur Patungan Korsel-Indonesia Akan Gunakan Radar Array)
Demikian pula, hanya 34% warga berpenghasilan di bawah Rp1 juta/bulan yang menilai investasi asing membawa perbaikan ekonomi, sementara sekitar 41% warga yang berpendapatan di atas Rp4 juta/bulan menilai investasi asing positif bagi perbaikan ekonomi Indonesia.
Lihat Juga :