Menatap Tahun Baru 2024, Berikut Tips Kelola Keuangan dari BEI

Selasa, 26 Desember 2023 - 07:29 WIB
loading...
Menatap Tahun Baru 2024,...
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan tips bagi investor untuk mengelola keuangan pada akhir tahun. Momen ini dapat digunakan untuk menyusun perencanaan keuangan sehingga tercipta manajemen finansial yang baik. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan tips bagi investor untuk mengelola keuangan pada akhir tahun. Menatap akhir 2023, sebagian orang melakukan liburan atau merencanakan kegiatan akhir tahun bersama keluarga atau teman.

Baca Juga: Belajar Cara Mengelola Keuangan Ala Orang Kaya

Momen ini dapat digunakan untuk menyusun perencanaan keuangan sehingga tercipta manajemen finansial yang baik. Berdasarkan catatan BEI, berikut adalah tips mengelola keuangan di akhir 2023.

1. Evaluasi

Pertama adalah mengevaluasi terlebih dahulu bagaimana pengelolaan keuangan selama tahun 2023. Apakah sudah sesuai dengan teori perencanaan keuangan yang ideal, atau justru berbalik arah.

Selanjutnya investor perlu menghitung berapa persen dana yang telah disimpan dalam bentuk tabungan dan berapa besar dana yang sudah diinvestasikan.

2. Konsep 70:30

Konsep ideal, menurut BEI, dalam mengelola keuangan adalah dengan mengalokasikan penghasilan yang diperoleh dengan menggunakan rumus 70:30. Rumus tersebut memiliki aturan, yaitu investor hanya dapat menggunakan sebesar 70% dari penghasilan untuk biaya dan gaya hidup.

Sementara itu, 30% sisanya dapat dikeluarkan masing-masing 10% untuk dana sosial, 10% untuk tabungan dana darurat, dan 10% untuk tabungan serta perlindungan dana jangka panjang. Dana sosial cukup dialokasikan sebesar 10% untuk membayar sumbangan/zakat, membantu orang tua, keluarga atau teman, yayasan, dan lain-lain.

Baca Juga: 4 Tanda Kamu Gagal dalam Mengelola Keuangan

Lalu, untuk 10% yang kedua dapat disimpan dalam bentuk tabungan di bank sampai jumlahnya mencukupi sekitar 6-10 kali biaya dan gaya hidup. Sebagai contoh, jika investor memiliki penghasilan per bulan sebesar Rp10 juta dan biaya hidup sebesar Rp7 juta, maka tabungan dana darurat yang harus dimiliki adalah sebesar Rp70 juta.

Oleh karena itu, jika suatu saat terjadi musibah yang tidak diinginkan, maka masih memiliki Tabungan yang dapat digunakan untuk bertahan hidup selama sepuluh bulan hingga mendapatkan pekerjaan baru.

Kemudian, bagi para pebisnis atau pedagang jika kembali terjadi PPKM seperti pada saat masa pandemi, maka mereka sudah memiliki tabungan yang dapat bertahan selama 10 bulan hingga situasi kembali kondusif untuk memulai usaha.

Maka dari itu, tabungan memiliki fungsi yang vital untuk menyimpan dana darurat dan untuk menyimpan dana untuk kebutuhan biaya dan gaya hidup.

Selanjutnya, 10% yang ketiga dapat dialokasikan untuk dana jangka panjang yang kebutuhannya di atas 10 tahun, seperti dana pensiun, biaya kuliah anak, dan biaya kesehatan di masa tua.

Selain itu, dana tersebut dapat dialokasikan untuk membeli produk proteksi atau asuransi. Hal ini dikarenakan dalam kehidupan ini terdapat lima risiko yang akan selalu mengancam, yaitu sakit, kecelakaan, cacat, meninggal dunia, dan tua.

3. Investasi

Setelah tabungan dana darurat telah dialokasikan sesuai dengan aturan rumus ideal tersebut, maka kelebihan dananya dapat dialokasikan untuk membeli produk-produk investasi.

Hal ini dilakukan agar alokasi dana investasi dapat meningkat seiring dengan kenaikan penghasilan. Dana investasi bisa diambil dari 10% penghasilan apabila kebutuhan dana darurat sudah tercukupi dan juga dapat diambil dari 10% alokasi dana tabungan jangka panjang jika kebutuhan asuransi sudah terpenuhi.

Ketika memilih produk investasi, maka investor disarankan memilih produk dari yang risikonya lebih rendah, seperti obligasi ritel (ORI), surat utang syariah (SUKRI), reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, ataupun aset investasi lainnya, seperti emas.

Kemudian, apabila investor sudah memiliki tambahan dana investasi, maka dapat mulai berinvestasi di aset yang memberikan imbal hasil dan risiko yang lebih tinggi, seperti saham ataupun reksa dana saham.

Lalu, investor juga dapat mempelajari terkait produk-produk derivatif seperti kontrak opsi saham ataupun jenis produk derivatif lainnya sebelum memutuskan untuk membeli produk tersebut.

4. Catatan Investasi

Perlu diingat bahwa tabungan berbeda dengan investasi. Di satu sisi, tabungan akan memberikan pendapatan bunga yang pasti dan pokoknya akan terjaga utuh. Di sisi lain, investasi memiliki risiko untuk kehilangan dana pokok atau modal investasi.

Hal ini dikarenakan semakin besar potensi keuntungan sebuah produk investasi, maka akan semakin besar pula risiko dari produk investasi tersebut.

Akan tetapi, semakin panjang waktu investasi, maka akan semakin kecil pula risiko kerugiannya karena umumnya siklus investasi yang berisiko tinggi akan naik nilainya dalam jangka panjang. Hal ini didorong semakin menguatnya kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang underlying asset-nya dibeli oleh investor di pasar modal.

Jika seorang investor sudah memiliki perlindungan atas risiko-risiko kehidupan dan memiliki tabungan dana darurat, maka tidak perlu terburu-buru untuk menjual produk investasinya di saat harga atau nilai produknya sedang turun. Dana inilah yang nantinya akan menjadi dana masa depan, seperti dana pensiun, biaya kuliah, dan dana jangka panjang lainnya.

“Jadi perlu diingat bahwa dana masa depan harus diproteksi sebesar nilai aset yang kita miliki, dengan alokasi biaya sekitar 10% dari penghasilan. Sehingga 90% dana kita akan aman dari risiko cut loss akibat 'Butuh Uang'," tulis BEI dalam catatannya, Jumat (22/12/2023).

5. Perbedaan Tabungan dan Investasi

Mengapa semua dana masa depan tersebut tidak disimpan saja di tabungan? Jawabannya adalah karena ada inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi setiap tahun.

Sebagai contoh, jika investor mau mengumpulkan Rp100 juta dalam 10 tahun dengan menabung 10 juta per tahun untuk biaya kuliah anak, maka bisa saja 10 tahun kemudian biaya kuliah sudah naik menjadi Rp200 juta. Sehingga pada akhirnya tidak mampu untuk membiayai kuliah anak, walaupun sudah menabung selama 10 tahun.

Produk investasi tentunya memberikan potensi bagi hasil di atas bunga tabungan dan di atas rata-rata inflasi. Potensi bagi hasil tersebut dapat menjaga nilai kekayaan yang dimiliki tetap sama atau bahkan lebih tinggi tanpa tergerus inflasi.

Hal tersebut dapat terelisasi asalkan disimpan dalam jangka panjang dan tidak diambil sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan darurat. Apabila diambil di luar jangka waktu yang telah direncanakan, maka bisa jadi nilai investasi tersebut sedang tidak baik atau sedang turun.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Tertipu, Waspadai Contoh Modus Investasi Ilegal Ini
Pelajari Investasi,...
Pelajari Investasi, Mahasiswa Universitas IBA Palembang & Universitas Tazkia Kunjungi MNC Sekuritas
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Modus Penipuan Berkedok Investasi Pasar Modal
Saksikan Sore Ini, IG...
Saksikan Sore Ini, IG Live MNC Sekuritas Bersama Danapathi AM: Di Tengah Ketidakpastian, Uang Harus Ke Mana?
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
Tips MotionTrade: Begini...
Tips MotionTrade: Begini Mekanisme Transaksi ETF di Pasar Modal
Tujuh Langkah Memperbaiki...
Tujuh Langkah Memperbaiki Keuangan Pesantren
Bantu Trader Bisa Profit,...
Bantu Trader Bisa Profit, Founder Astronacci International Raih Rekor ke-8 Muri
Cara Hemat dan Efektif...
Cara Hemat dan Efektif Mengelola Keuangan Digital
Rekomendasi
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
MNC University Siapkan...
MNC University Siapkan Program Double Degree dan Pertukaran Mahasiswa dengan Kampus ASEAN
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Berita Terkini
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
PLN EPI Tuntaskan Hot...
PLN EPI Tuntaskan Hot Tap WNTS-Pemping, Gas Natuna Siap Mengalir ke Dalam Negeri
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Infografis
5 Fakta 2024 Jadi Tahun...
5 Fakta 2024 Jadi Tahun Kemenangan Rusia di Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved