Harga Minyak Naik Tinggi Karena Saudi Ingin Perpanjang Pemotongan Produksi

Sabtu, 24 Maret 2018 - 08:14 WIB
Harga Minyak Naik Tinggi...
Harga Minyak Naik Tinggi Karena Saudi Ingin Perpanjang Pemotongan Produksi
A A A
SINGAPURA - Harga minyak mentah naik setelah Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan OPEC akan berkoordinasi dengan Rusia--negara produsen minyak nomor satu di dunia--untuk memperpanjang pemotongan produksi hingga tahun 2019.

Melansir dari Reuters, Sabtu (24/3/2018), kenaikan harga ini bertolak belakang dengan kemerosotan saham-saham energi di pasar global, sebagai respons terhadap kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Alhasil, investor memilih emas sebagai instrumen safe haven, di mana harganya mencapai tingkat tertinggi pada dua pekan ini.

Harga minyak mentah berjangka Brent International naik USD1,55 menjadi USD70,4 per barel. Dan harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTO) ditutup naik 2,5% menjadi USD65,88 per barel. Brent dan WTI telah naik lebih dari 5% selama sepekan.

Sejak Januari 2017, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara non OPEC yang dipimpin Rusia, telah mengekang produksi minyak sebesar 1,8 juta barel per hari untuk melawan lonjakan produksi minyak AS.

Namun sejauh ini, harga minyak belum maju sesuai yang diharapkan. Karena itu, Menteri Energi Saudi, Khalid al-Falih kembali berkoordinasi dengan Rusia untuk membatasi pasokan hingga tahun 2019, demi mengurangi kelebihan pasokan minyak global.

Sementara itu, para analis mengatakan perselisihan antara AS dan China kemungkinan bisa mengenai pasar minyak. Namun saat ini, permintaan minyak masih sehat. "Ketegangan global kemungkinan akan datang. Tapi saat ini keseimbangan global (antara pemangkasan produksi dan lonjakan produksi) relatif ketat," kata Andrew Wilson, kepala penelitian energi di BRS Brokers.

Seiring dengan menanjaknya harga minyak, Morgan Stanley memperkirakan kenaikan permintaan minyak akan meningkat di beberapa bulan mendatang. Karena itu, bank AS ini mendorong produksi minyak AS harus dipercepat untuk mengisi pasar.

Morgan Stanley mengharapkan harga minyak menguat lebih jauh dari saat ini, dan prediksi harga Brent mencapai USD75 per barel pada kuartal III 2018. Sedangkan Goldman Sachs memperkirakan dengan pemotongan OPEC bakal mendorong harga Brent ke level USD82 per barel pada pertengahan tahun 2018.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Minyak Hari Ini...
Harga Minyak Hari Ini Naik Tipis, Janji OPEC+ Jadi Katalis
Harga Minyak Menghangat,...
Harga Minyak Menghangat, Merespons Proyeksi Permintaan OPEC
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melompat ke Level Tertinggi
Usai Melonjak, Harga...
Usai Melonjak, Harga Minyak Hari Ini Ambles di Bawah USD100 per Barel
Daftar 7 Negara OPEC+...
Daftar 7 Negara OPEC+ yang Buka Keran Minyak, Intip Angkanya
Sekjen Baru OPEC: Rusia...
Sekjen Baru OPEC: Rusia Pemain Besar dan Sangat Berpengaruh dalam Peta Energi Dunia
Berita Terkini
IHSG Senin Depan Diprediksi...
IHSG Senin Depan Diprediksi Lanjut Koreksi, Cermati Area 6.074-6.146
3 menit yang lalu
Ramalan Goldman Sachs...
Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel
45 menit yang lalu
Ini Daftar Lengkap 60...
Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
1 jam yang lalu
PLN EPI Perluas Kemitraan...
PLN EPI Perluas Kemitraan Global Bangun Rantai Pasok Hidrogen Hijau
12 jam yang lalu
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
12 jam yang lalu
PT Astra International...
PT Astra International Tbk: Dari Rumah Koran di Desa Sejahtera Astra Kanreapia Menjadi Sentra Sayuran di Sulawesi Selatan
13 jam yang lalu
Infografis
72% Warga Israel Ingin...
72% Warga Israel Ingin Netanyahu Mundur karena Serangan Hamas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved