Ganjar-Mahfud Dorong Revitalisasi BUMN Berbagi Peran dengan Swasta
Jum'at, 12 Januari 2024 - 12:58 WIB
loading...
A
A
A
"Jadi kita memang to govern, mengelola, me-manage, menstimulasi agar itu tumbuh. Maka kemudian kalau tadi ditanyakan, rasanya penting BUMN boleh punya anak perusahaan tapi tak boleh punya cucu atau cicit," papar mantan Gubernur Jawa Tengan dua periode itu.
Ganjar menangkap pesan yang disampaikan pelaku usaha soal monopoli. Kehadiran BUMN yang banyak akhirnya menyebabkan swasta tidak memiliki peran.
"Maka begitu bicara monopoli, saya coba memahami, ini kayaknya BUMN punya cucu, punya anak, punya cucu, punya cicit, cagak, gantung siwur, kalau kata orang di Jawa itu, rame, banyak, akhirnya swasta tidak punya peran," katanya.
Perusahaan swasta maupun pelat merah seyogyanya memiliki proporsi masing-masing. Pemerintah harusnya memahami proporsi itu dan mengatur peran yang seimbang antara swasta dan BUMN.
"Bapak ibu percayalah, pemerintahan yang mempunyai integritas tinggi, yang memahami peran tadi itu, ada swasta, ada BUMN, ada koperasi, yang paham secara konstitusi dia akan mengerti proporsi yang mesti diberikan," katanya.
Ganjar menangkap pesan yang disampaikan pelaku usaha soal monopoli. Kehadiran BUMN yang banyak akhirnya menyebabkan swasta tidak memiliki peran.
"Maka begitu bicara monopoli, saya coba memahami, ini kayaknya BUMN punya cucu, punya anak, punya cucu, punya cicit, cagak, gantung siwur, kalau kata orang di Jawa itu, rame, banyak, akhirnya swasta tidak punya peran," katanya.
Perusahaan swasta maupun pelat merah seyogyanya memiliki proporsi masing-masing. Pemerintah harusnya memahami proporsi itu dan mengatur peran yang seimbang antara swasta dan BUMN.
"Bapak ibu percayalah, pemerintahan yang mempunyai integritas tinggi, yang memahami peran tadi itu, ada swasta, ada BUMN, ada koperasi, yang paham secara konstitusi dia akan mengerti proporsi yang mesti diberikan," katanya.
(akr)
Lihat Juga :