Pengamat Wanti-wanti Efek Buruk Larangan Ekspor Nikel RI Berkepanjangan

Kamis, 25 Januari 2024 - 12:38 WIB
loading...
Pengamat Wanti-wanti...
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan, kebijakan pemerintah yang melarang ekspor komoditas mentah seperti nikel punya sisi buruk untuk jangka panjang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan, kebijakan pemerintah yang melarang ekspor komoditas mentah seperti nikel punya sisi buruk untuk jangka panjang. Larangan ekspor sumber daya alam bakal mempercepat negara lain untuk melakukan eksplorasi bahan baku substitusi.

Baca Juga: IMF Sebut Larangan Ekspor Nikel Rugikan Indonesia, Bahlil: Ngawur!

Teuku menjelaskan, beberapa kasus pelarangan ekspor bahan baku mentah yang sebelumnya sudah sempat terjadi, sudah cukup membuktikan bahwa eksplorasi akan semakin cepat dilakukan.

"Jadi kalau kita lihat dalam kasus ekspor nikel , ini menjadi isu security di banyak negara, dimana negara lain yang membutuhkan nikel tentu mereka berpikir ulang untuk mengandalkan nikel, sehingga ini mendorong adanya RnD (Research and Development) atau mencari substitusi terhadap nikel," ujar Teuku dalam Market Review IDXChannel, Kamis (25/1/2024).

Misalnya pada tahun 1970 silam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) resmi melarang ekspor minyak numo. Hal tersebut membuat eksplorasi minyak bumi di berbagai negara kian masif agar tidak memiliki ketergantungan.

Baca Juga: Dampak Positif Larangan Ekspor Nikel Baru Terasa Tahun Depan

Selain itu berdasarkan studi yang dilakukan oleh Forest Watch Indonesia, Pemerintah juga sempat menerapkan kebijakan larangan ekspor kayu bulat secara total pada periode tahun 1985 sampai 1997. Hasilnya, membuat percepatan pertumbuhan kayu sintetis di negara lain dan tidak mengandalkan kayu dari Indonesia.

"Jadi pada proses nikel ini tentu ada risiko bahwa negara lain akan mempercepat proses untuk mengurangi ketergantungannya terhadap nikel," sambungnya.

Kebijakan penutupan ekspor bijih nikel pada 2020 diikuti dengan kenaikan harga dan terbatasnya stok saat itu memicu produsen mencari alternatif. Itu sebabnya banyak perusahaan baterai dunia mulai fokus pada Lithium Ferro Phosphate ( LFP ), tidak terkecuali bagi produsen asal China.

Akibatnya saat ini nikel yang awalnya dominan sebagai bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik, sudah memiliki kompetitor. Misalnya negara China yang memproduksi baterai kendaraan listrik tidak hanya menggunakan nikel, tapi menggunakan Lithium Ferro Phosphate (LFP).

"Ini yang perlu diperhatikan, jangan sampai proses hilirisasi ini justru mempercepat negara lain malah tidak menggunakan nikel di jangka panjang, kalau jangka pendek memang positif, invetasi meningkat, tenaga kerja, tapi dampak jangka panjang harus kita pikirkan," tutupnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Didakwa Terima Suap...
Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar, Hery Susanto Tak Ajukan Eksepsi
Jaksa Ungkap Nama Samaran...
Jaksa Ungkap Nama Samaran Hery Susanto, Ada John Lennon 07 hingga Komandante
Mantan Ketua Ombudsman...
Mantan Ketua Ombudsman Terima Rumah hingga Uang Miliaran di Kasus Korupsi Tambang Nikel
Rekomendasi
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Nadiem Makarim Menangis...
Nadiem Makarim Menangis hingga Beri Tanda Tangan ke Mitra Go Jek saat Tiba di PN Tipikor
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Vonis Korupsi Chromebook, Puluhan Ojol Gelar Aksi di Luar Pengadilan
Berita Terkini
KTM Growth Forum 2026,...
KTM Growth Forum 2026, Bahas Kesiapan Talenta dan Suksesi Kepemimpinan
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,63 Juta per Gram Hari Ini
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Topremit Catat 300.000...
Topremit Catat 300.000 Pengguna, Remitansi Digital Kian Digemari
IHSG Pagi Ini Anjlok...
IHSG Pagi Ini Anjlok Lebih 1%, Balik ke Level 5.700-an
Infografis
Head to Head Irak vs...
Head to Head Irak vs Indonesia, Skuad Garuda Dihantui Rekor Buruk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved