Survei Bloomberg: Dinasti Politik Jokowi Jadi Kutukan bagi Perekonomian
Jum'at, 26 Januari 2024 - 18:44 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa jabatan pertama Jokowi, Anies Baswedan menjadi menteri pendidikan namun diberhentikan dalam perombakan kabinet dua tahun kemudian. Dia kemudian mengincar, dan memenangkan, pemilihan gubernur Jakarta pada 2017, menggunakan kampanye yang memecah belah yang memanfaatkan reaksi Muslim terhadap petahana Tionghoa-Kristen yang juga merupakan sekutu Jokowi.
Sebagai bagian dari kampanye, Anies berjanji untuk mengenakan pajak bagi orang kaya dan menciptakan jutaan lapangan kerja ekonomi hijau. Dia juga menjadi salah satu kritikus Jokowi yang paling menonjol terhadap rencana presiden untuk membangun ibu kota baru senilai USD34 miliar di pulau Kalimantan, dengan mengatakan bahwa kebijakan seharusnya tidak didasarkan pada aspirasi pribadi. Dia juga mengkritik pemerintahan Jokowi karena tidak bertindak cepat untuk mengatasi Covid-19 dan mempertanyakan data kasus pada puncak pandemi.
Dinasti Politik
Masyarakat Indonesia semakin tidak nyaman dengan politik dinasti, sebuah hal yang biasa terjadi di negara ini sejak kemerdekaan. Prabowo mewakili benang merah sejarah tersebut tidak hanya melalui pasangannya, tetapi juga sebagai mantan menantu mendiang diktator Soeharto.
Sepuluh dari 17 responden dalam survei Bloomberg mengatakan bahwa sebuah dinasti politik di bawah Jokowi tidak akan menjadi pertanda baik untuk pasar dan ekonomi. Meskipun Jokowi berkuasa satu dekade lalu sebagai orang luar dengan kampanye yang mempromosikan dirinya sebagai orang yang merakyat, putra-putranya kini aktif terlibat dalam politik dan seorang menantunya menjabat sebagai walikota Medan, salah satu kota terbesar di Indonesia.
Tuduhan-tuduhan nepotisme merebak tahun lalu, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) yang diketuai oleh hakim agung yang merupakan saudara ipar Jokowi menurunkan batas usia yang memenuhi syarat untuk menjadi presiden dan wakil presiden. Hal ini membuka jalan bagi putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang berusia 36 tahun, untuk maju sebagai calon wakil presiden.
Baca Juga: Polemik Pernyataan Presiden Berkampanye, Connie: Jokowi Lakukan Kejahatan Politik
Sebagai bagian dari kampanye, Anies berjanji untuk mengenakan pajak bagi orang kaya dan menciptakan jutaan lapangan kerja ekonomi hijau. Dia juga menjadi salah satu kritikus Jokowi yang paling menonjol terhadap rencana presiden untuk membangun ibu kota baru senilai USD34 miliar di pulau Kalimantan, dengan mengatakan bahwa kebijakan seharusnya tidak didasarkan pada aspirasi pribadi. Dia juga mengkritik pemerintahan Jokowi karena tidak bertindak cepat untuk mengatasi Covid-19 dan mempertanyakan data kasus pada puncak pandemi.
Dinasti Politik
Masyarakat Indonesia semakin tidak nyaman dengan politik dinasti, sebuah hal yang biasa terjadi di negara ini sejak kemerdekaan. Prabowo mewakili benang merah sejarah tersebut tidak hanya melalui pasangannya, tetapi juga sebagai mantan menantu mendiang diktator Soeharto.
Sepuluh dari 17 responden dalam survei Bloomberg mengatakan bahwa sebuah dinasti politik di bawah Jokowi tidak akan menjadi pertanda baik untuk pasar dan ekonomi. Meskipun Jokowi berkuasa satu dekade lalu sebagai orang luar dengan kampanye yang mempromosikan dirinya sebagai orang yang merakyat, putra-putranya kini aktif terlibat dalam politik dan seorang menantunya menjabat sebagai walikota Medan, salah satu kota terbesar di Indonesia.
Tuduhan-tuduhan nepotisme merebak tahun lalu, setelah Mahkamah Konstitusi (MK) yang diketuai oleh hakim agung yang merupakan saudara ipar Jokowi menurunkan batas usia yang memenuhi syarat untuk menjadi presiden dan wakil presiden. Hal ini membuka jalan bagi putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang berusia 36 tahun, untuk maju sebagai calon wakil presiden.
Baca Juga: Polemik Pernyataan Presiden Berkampanye, Connie: Jokowi Lakukan Kejahatan Politik
Lihat Juga :