Pemerintah Tarik Utang Rp107,6 Triliun Per Januari 2024
Jum'at, 23 Februari 2024 - 10:11 WIB
loading...
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi pembiayaan utang atau penarikan utang baru pada Januari 2024. Penarikan utang pemerintah mencapai Rp107,6 triliun. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi pembiayaan utang atau penarikan utang baru pada Januari 2024. Penarikan utang pemerintah mencapai Rp107,6 triliun atau 16,6% dari target APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebesar Rp648,1 triliun.
"Pembayaran anggaran on track, kita telah melakukan realisasi pembiayaan sebesar Rp107,6 triliun di 2024 ini, khususnya di Januari," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat konferensi pers APBNKITA edisi Februari 2024, Kamis (22/2/2024).
Adapun realisasi ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pembiayaan utang pada Januari 2022 yang saat itu sebesar Rp95,62 triliun. Baca Juga: Realisasi Penerimaan Pajak Capai Rp149,25 Triliun per Januari 2024
Suahasil menyebut pemerintah akan terus melakukan pemantauan atas dinamika pasar keuangan, sehingga penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) bisa dilakukan secara efisien dan bisa memitigasi seluruh risiko di tingkat global.
"Tentu kita akan terus melakukan pemantauan atas dinamika pasar keuangan supaya kita dalam menerbitkan SBN bisa terus betul-betul secara efisien dan mengantisipasi dan memitigasi seluruh risiko dari kondisi di tingkat global," jelasnya.
"Pembayaran anggaran on track, kita telah melakukan realisasi pembiayaan sebesar Rp107,6 triliun di 2024 ini, khususnya di Januari," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara saat konferensi pers APBNKITA edisi Februari 2024, Kamis (22/2/2024).
Adapun realisasi ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pembiayaan utang pada Januari 2022 yang saat itu sebesar Rp95,62 triliun. Baca Juga: Realisasi Penerimaan Pajak Capai Rp149,25 Triliun per Januari 2024
Suahasil menyebut pemerintah akan terus melakukan pemantauan atas dinamika pasar keuangan, sehingga penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) bisa dilakukan secara efisien dan bisa memitigasi seluruh risiko di tingkat global.
"Tentu kita akan terus melakukan pemantauan atas dinamika pasar keuangan supaya kita dalam menerbitkan SBN bisa terus betul-betul secara efisien dan mengantisipasi dan memitigasi seluruh risiko dari kondisi di tingkat global," jelasnya.
Lihat Juga :