Dunia Terpecah Belah, Investasi Kini Pakai Pendekatan Pertemanan
Kamis, 07 Maret 2024 - 14:55 WIB
loading...
A
A
A
"Mereka akan melihat angka inflasi dan underline faktornya yang masih dianggap cukup tinggi dan bertahan. Oleh karena itu, kebijakan suku bunga mereka policy rate-nya juga mungkin masih harus menunggu sampai bisa diyakinkan inflsdinya bisa turun," tuturnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Ketir-ketir Lonjakan Harga Beras Bakal Kerek Inflasi
Sri Mulyani memandang, suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang panjang juga menekan inflasi. Di sisi lain, fragmentasi global ekonomi melalui kebijakan proteksionime juga banyak menekan Purchasing Managers Index (PMI) di berbagai negara.
"Negara-negara seperti di Eropa masih mengalami PMI yang kontraktif. Ini semua lah yang menyebabkan GDP global tahun 2024 masih akan lemah atau belum pulih dibandingkan tahun lalu," kata dia.
Baca Juga: Sri Mulyani Ketir-ketir Lonjakan Harga Beras Bakal Kerek Inflasi
Sri Mulyani memandang, suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang panjang juga menekan inflasi. Di sisi lain, fragmentasi global ekonomi melalui kebijakan proteksionime juga banyak menekan Purchasing Managers Index (PMI) di berbagai negara.
"Negara-negara seperti di Eropa masih mengalami PMI yang kontraktif. Ini semua lah yang menyebabkan GDP global tahun 2024 masih akan lemah atau belum pulih dibandingkan tahun lalu," kata dia.
(nng)
Lihat Juga :