Bos BRI Beberkan Dampak BI Kerek Suku Bunga ke 6,25%
Kamis, 25 April 2024 - 10:59 WIB
loading...
A
A
A
"Ya pasti kita harus ngikuti, anggapannya apa? ya kita harus ngikuti karena kenaikan suku bunga adalah keputusan yang logic, keputusan yang rasional bahwa karena kita menghadapi tantangan inflasi dan mengendalikan fluktuasi nilai tukar kita," jelasnya.
"Maka BI menggunakan instrumennya instrumen suku bunga, maka itu kita nilai bahwa itu adalah keputusan yang didasarkan pada analytic dan rasional dan logic," imbuh Sunarso.
Sunarso melanjutkan, dampaknya adalah pihak BRI memikul beban yang disebabkan oleh gejolak ini sehingga bank harus ikut bersusah payah untuk mempertahankan likuiditas di tengah tantangan kenaikan suku bunga.
Maka bagi bank yang harus dicermati adalah bagaimana likuiditasnya. Tetapi untuk sekarang BRI punya LDR di kisaran 83,38% yang berarti bank BUMN ini tidak punya isu likuiditas.
"Kenapa? ya LDR-nya itu 83,28% sementara kita masih bisa membukukan kredit 10% lebih, artinya apa? kredit masih tumbuh dan likuiditas masih longgar," tegas Sunarso.
"Maka BI menggunakan instrumennya instrumen suku bunga, maka itu kita nilai bahwa itu adalah keputusan yang didasarkan pada analytic dan rasional dan logic," imbuh Sunarso.
Sunarso melanjutkan, dampaknya adalah pihak BRI memikul beban yang disebabkan oleh gejolak ini sehingga bank harus ikut bersusah payah untuk mempertahankan likuiditas di tengah tantangan kenaikan suku bunga.
Maka bagi bank yang harus dicermati adalah bagaimana likuiditasnya. Tetapi untuk sekarang BRI punya LDR di kisaran 83,38% yang berarti bank BUMN ini tidak punya isu likuiditas.
"Kenapa? ya LDR-nya itu 83,28% sementara kita masih bisa membukukan kredit 10% lebih, artinya apa? kredit masih tumbuh dan likuiditas masih longgar," tegas Sunarso.
Lihat Juga :