alexametrics

Kadin Prediksi Ekonomi Tumbuh 5,3%

loading...
Kadin Prediksi Ekonomi Tumbuh 5,3%
Kadin Prediksi Ekonomi Tumbuh 5,3%. (Istimewa).
A+ A-
JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,3% pada 2019.

Hal tersebut menyusul membaiknya sektor perdagangan Indonesia tahun ini. Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, pada 2019 pertumbuhan ekonomi 5,3% jauh lebih tinggi dari target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan pada 2018 sebesar 5,1%.

“Kalau kita sih melihatnya Indonesia akan jauh lebih baik dibandingkan 2018 yang kurang lebih 5,1%. Kita melihatnya sih insya Allah pada 2019 ini kita bisa mencapai 5,2% sampai 5,3%,” ungkapnya saat di temui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, kemarin.



Rosanmenambahkan, sek tor yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada 2019 adalah perdagangan dan konsumsi dalam negeri. Konsumsi dan perdagangan dalam negeri pada 2019 akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. ”Karena tetap akan ditunjang dengan domestic consumption dan investasi,” ucapnya.

Selain dua sektor tersebut, lanjut Rosan, ada satu lagi sektor yang diprediksi akan mendongkrak perekonomian Indonesia tahun ini, yakni investasi baik itu dalam negeri maupun asing yang diprediksi akan meningkat tajam tahun ini. “Saya lihat sih kita makin lama makin baik dan iklim investasi kita makin lama makin menarik untuk masuk Indonesia,” katanya.

Menurut Rosan, peningkatan investasi pada 2019 tidak terlepas dari upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Dari mulai kebijakan perpajakan hingga perizinan diberikan pemerintah kepada para pengusaha asing maupun dalam negeri yang mau berinvestasi di Indonesia.

“Pemerintah terus menciptakan banyak kebijakan yang baik seperti tax allowance, tax holiday, dan online single submission. Berbagai perbaikan di segi birokrasi dan perpajakan juga cukup membantu walaupun tentunya kita harus senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan lebih lanjut karena kita berkompetisi dengan negara-negara tetangga,” jelasnya.

Di sisi lain, keberadaan perang dagang juga sangat membantu untuk mendongkrak investasi yang masuk karena baik Amerika Serikat maupun China akan mencari negara lain untuk berinvestasi dan biasnya dua negara tersebut akan mencari negara yang kondisi perekonomiannya membaik seperti Indonesia.“Tapi, kita akan melihat kepada investasi yang masuk ke Indonesia dengan adanya perang dagang ini kan yang tadinya investasi banyak yang masuk ke negara-negara lain seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, sekarang juga mulai masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Meski begitu, Rosan menegaskan, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan pemerintah dalam mengarungi tahun ini. Salah satu yang perlu di perhatikan dalam menghadapi 2019 adalah kemungkinan melambatnya perekonomian China. Ekonomi China tahun ini diperkirakan berada di level 6,2%.

Menurut Rosan, perlambatan ekonomi China akan memengaruhi perekonomian dalam negeri mengingat saat ini ekspor mayoritas Indonesia menuju Negeri Tirai Bambu. Bahkan dibandingkan ekspor menuju Amerika Serikat, ekspor menuju China jauh lebih besar.

“Kita ini lebih sensitif perlambatan pertumbuhan ke China dibandingkan dengan Amerika Serikat karena ekspor kita ini banyak melibatkan China,” ujarnya.

Selain perlambatan ekonomi China, harga komoditas juga harus menjadi warning pemerintah pada 2019. Penurunan harga komoditas akan berpengaruh terhadap nilai ekspor karena dengan harga acuan dunia yang turun, maka secara nilai akan jauh lebih kecil meskipun secara volume jumlahnya relatif sama.

Karena itu, lanjutnya, diperlukan alternatif ekspor lain selain komoditas yang harganya berpotensi melemah. Salah satu contohnya bagaimana mendorong ekspor produk jadi yang nilainya tambah bisa jauh lebih tinggi dibandingkan produk mentah. (Rakhmat Baihaqi/Okezone)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak