KSP Apresiasi PLN EPI Libatkan Masyarakat Kembangkan Biomassa
Jum'at, 03 Mei 2024 - 13:58 WIB
loading...
Tenaga Ahli Utama Kedeputian I KSP Trijoko M Soleh Oedin mengapresiasi pelibatan masyarakat oleh PLN EPI dalam pengembangan ekosistem biomassa. FOTO/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kantor Staff Presiden (KSP) mengapresiasi langkah Subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) yang melibatkan msayarakat dalam pengembangan biomassa. Sebab, tak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga menjadi katalis pendorong perekonomian rakyat.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian I Kantor Staf Presiden (KSP) Trijoko M Soleh Oedin mengapresiasi keberhasilan pelaksanaan program co-firing oleh PLN yang tidak berbasis Hutan Tanaman Energi (HTE), melainkan memanfaatkan bahan baku dari limbah pertanian, perkebunan dan perhutanan serta penanaman di lahan kritis.
Sebab, pemanfaatan limbah mendorong penurunan emisi dari limbah yang membusuk atau dibakar. Sementara, dari penanaman tanaman energi di lahan kritis mendorong peningkatan penyerapan karbon di tanah dan di batang tanaman.
Baca Juga: Naik 220%, PLN EPI Akan Pasok 2,2 Juta Ton Biomassa di 2024
"Dan yang menarik adalah, ekosistem biomassa ini akan menurunkan emisi dari sisi FOLU (Forestry and Other Land Use) dan Agriculture. Setidaknya sekarang itu bahasanya sedekah oksigen," ujar Trijoko dalam keterangannya, Jumat (3/5/2024).
Program co-firing Biomassa oleh PLN ini menurutnya sangat membantu komitmen pemerintah dalam upaya menurunkan emisi karbon. "Di PLTU mengurangi porsi batu bara dengan biomassa akan terjadi penurunan emisi karbon. Sedangkan di hulunya, ada pengurangan emisi karbon dari pemanfaatan limbah serta peningkatan karbon stok dari penanaman," jelasnya.
Trijoko menambahkan, untuk mencapai Net Zero Emission (NZE), perlu dilakukan Life Cycle Assesment, dari hulu sampai hilir. Oleh karena itu, ia mendukung penuh program serupa untuk direplikasi dengan melibatkan para pemangku kepentingan terkait.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian I Kantor Staf Presiden (KSP) Trijoko M Soleh Oedin mengapresiasi keberhasilan pelaksanaan program co-firing oleh PLN yang tidak berbasis Hutan Tanaman Energi (HTE), melainkan memanfaatkan bahan baku dari limbah pertanian, perkebunan dan perhutanan serta penanaman di lahan kritis.
Sebab, pemanfaatan limbah mendorong penurunan emisi dari limbah yang membusuk atau dibakar. Sementara, dari penanaman tanaman energi di lahan kritis mendorong peningkatan penyerapan karbon di tanah dan di batang tanaman.
Baca Juga: Naik 220%, PLN EPI Akan Pasok 2,2 Juta Ton Biomassa di 2024
"Dan yang menarik adalah, ekosistem biomassa ini akan menurunkan emisi dari sisi FOLU (Forestry and Other Land Use) dan Agriculture. Setidaknya sekarang itu bahasanya sedekah oksigen," ujar Trijoko dalam keterangannya, Jumat (3/5/2024).
Program co-firing Biomassa oleh PLN ini menurutnya sangat membantu komitmen pemerintah dalam upaya menurunkan emisi karbon. "Di PLTU mengurangi porsi batu bara dengan biomassa akan terjadi penurunan emisi karbon. Sedangkan di hulunya, ada pengurangan emisi karbon dari pemanfaatan limbah serta peningkatan karbon stok dari penanaman," jelasnya.
Trijoko menambahkan, untuk mencapai Net Zero Emission (NZE), perlu dilakukan Life Cycle Assesment, dari hulu sampai hilir. Oleh karena itu, ia mendukung penuh program serupa untuk direplikasi dengan melibatkan para pemangku kepentingan terkait.
Lihat Juga :