Susun Standar Material Konstruksi Reflektif Surya Tinggi, Komunitas SBCC Studi ke Australia
Senin, 13 Mei 2024 - 14:16 WIB
loading...
A
A
A
"Penyusunan kebijakan ini baik pusat maupun negara bagian dibantu oleh pemangku kepentingan kunci yaitu asosiasi industri, jasa konstruksi, komunitas berkelanjutan, gedung hijau council, akademisi, dan praktisi," sambungnya.
Performa gedung dan rumah dinilai berdasarkan perimeter-perimeter yang telah dibangun dan disepakati secara internasional yang ratingnya dinamai green star credits di negara bagian NSW dan persyaratan penggunaan material atap yang telah memiliki standar reflektifitas tertentu (SRI/ Solar Reflectance Index) diatur didalamnya beserta dengan tingkat kemiringan atap (pitch).
Sementara di negara bagian Victoria masih berfokus kepada area hijau dan untuk rumah adalah yang rendah energi dan karbon. Terkait material atap ini, masih dalam usaha pemerintah negara bagian ini untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan sedang terus dikaji oleh universitas ternama seperti University of Melbourne dan RMIT Melbourne.
Dari hasil diskusi bersama yang kondusif ini, ketiga elemen dari SBCC, yaitu UPI-akademisi, Tatalogam Group-industri dan bisnis, dan Kementerian PUPR-pemerintah diharapkan dapat bersinergi dalam penyusunan rekomendasi standar untuk produk lembaran baja lapis warna/ cat dengan kriteria Solar Reflectance Index (SRI) optimal di Tanah Air.
"Yang mana hal ini akan membantu peningkatan utilisasi industri baja lapis nasional dan meningkatkan nilai TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dalam penggunaannya pada kegiatan konstruksi. Selanjutnya diharapkan adanya penyusunan prototipe rumah reflektif surya berbasis kebijakan bangunan hijau dan cerdas yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia yang dapat mendemonstrasikan wujud bangunan/rumah modular yang ramah lingkungan, berkelanjutan (rendah karbon, hemat energi, lebih adem, less to zero waste), kuat, cepat bangun, ringan, ramah gempa, dan ekonomis. Yang sekaligus hal ini dapat membantu pemerintah dalam mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai pendekatan adaptif," tutup Maharany.
Performa gedung dan rumah dinilai berdasarkan perimeter-perimeter yang telah dibangun dan disepakati secara internasional yang ratingnya dinamai green star credits di negara bagian NSW dan persyaratan penggunaan material atap yang telah memiliki standar reflektifitas tertentu (SRI/ Solar Reflectance Index) diatur didalamnya beserta dengan tingkat kemiringan atap (pitch).
Sementara di negara bagian Victoria masih berfokus kepada area hijau dan untuk rumah adalah yang rendah energi dan karbon. Terkait material atap ini, masih dalam usaha pemerintah negara bagian ini untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan sedang terus dikaji oleh universitas ternama seperti University of Melbourne dan RMIT Melbourne.
Dari hasil diskusi bersama yang kondusif ini, ketiga elemen dari SBCC, yaitu UPI-akademisi, Tatalogam Group-industri dan bisnis, dan Kementerian PUPR-pemerintah diharapkan dapat bersinergi dalam penyusunan rekomendasi standar untuk produk lembaran baja lapis warna/ cat dengan kriteria Solar Reflectance Index (SRI) optimal di Tanah Air.
"Yang mana hal ini akan membantu peningkatan utilisasi industri baja lapis nasional dan meningkatkan nilai TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dalam penggunaannya pada kegiatan konstruksi. Selanjutnya diharapkan adanya penyusunan prototipe rumah reflektif surya berbasis kebijakan bangunan hijau dan cerdas yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia yang dapat mendemonstrasikan wujud bangunan/rumah modular yang ramah lingkungan, berkelanjutan (rendah karbon, hemat energi, lebih adem, less to zero waste), kuat, cepat bangun, ringan, ramah gempa, dan ekonomis. Yang sekaligus hal ini dapat membantu pemerintah dalam mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai pendekatan adaptif," tutup Maharany.
(akr)
Lihat Juga :