Peneliti Indonesia Ungkap Strategi Atasi Masalah Rokok di Tokyo
Senin, 27 Mei 2024 - 21:55 WIB
loading...
Peneliti Indonesia mengungkapkan strategi mengatasi masalah rokok. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Konferensi The 15th Asian Conference on The Social Sciences (ACSS 2024) yang diselenggarakan oleh International Academic Forum ( IAFOR ) telah digelar di Tokyo pada Minggu, 26 Mei 2024. Dua peneliti dari Indonesia, Prof. Kholil dan Hifni Alifahmi berkesempatan menghadiri konferensi tersebut.
Pada kesempatan tersebut, kedua peneliti memaparkan hasil kajian mereka mengenai strategi komunikasi untuk membangun kesadaran tentang masalah merokok di Indonesia dengan pendekatan pengurangan risiko. Acara konferensi dimulai dengan presentasi panel oleh Donald E. Hall yang menyampaikan pemaparan berjudul The Work of the University in Perilous Times membahas bagaimana peran universitas mendorong komitmen bersama untuk pemahaman interdisipliner, kesadaran diri dan empati dalam menghadapi tantangan global yang semakin tidak menentu. Berdasarkan analisis deskriptif, aspek kesehatan, kebijakan pemerintah, dan ekonomi merupakan kontributor terbesar terhadap strategi komunikasi dengan model pengurangan risiko ini.
Baca Juga: Indonesia Disarankan Belajar dari Eropa Kurangi Kecanduan Rokok
Oleh karena itu, narasi pengurangan risiko yang efektif untuk masalah merokok harus didasarkan pada aspek-aspek tersebut. Strategi komunikasi ini juga menggunakan model kolaborasi HexaHelix yang melibatkan akademisi, masyarakat umum, pemerintah, pelaku usaha, media dan organisasi masyarakat untuk bersama mengatasi masalah tersebut.
"Komitmen dan kebijakan yang tepat sasaran dari pemerintah diperlukan untuk mengatasi masalah merokok secara tersegmentasi, yakni membedakan strategi untuk non-perokok agar tidak mulai merokok, perokok aktif yang ingin berhenti merokok dan perokok aktif yang sulit berhenti merokok," lanjut Kholil.
Faktor kunci keberhasilan untuk mengatasi masalah merokok secara tersegmentasi tersebut ialah membangun strategi komunikasi yang efektif, baik langsung maupun tidak langsung, dengan menggunakan peran media sosial, teknologi digital, dan kolaborasi dengan figur publik agar pesan yang disampaikan dapat tepat sasaran pada tiga target, yaitu non-perokok, perokok berhenti (quitter) dan perokok beralih (switcher).
Untuk membangun strategi komunikasi tersebut, narasi harus memuat faktor kesehatan, sosial budaya dan ekonomi. Kesehatan adalah prioritas utama karena semua perokok sadar bahwa merokok dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka, dan pengobatan penyakit akibat merokok memerlukan biaya yang mahal.
Pada kesempatan tersebut, kedua peneliti memaparkan hasil kajian mereka mengenai strategi komunikasi untuk membangun kesadaran tentang masalah merokok di Indonesia dengan pendekatan pengurangan risiko. Acara konferensi dimulai dengan presentasi panel oleh Donald E. Hall yang menyampaikan pemaparan berjudul The Work of the University in Perilous Times membahas bagaimana peran universitas mendorong komitmen bersama untuk pemahaman interdisipliner, kesadaran diri dan empati dalam menghadapi tantangan global yang semakin tidak menentu. Berdasarkan analisis deskriptif, aspek kesehatan, kebijakan pemerintah, dan ekonomi merupakan kontributor terbesar terhadap strategi komunikasi dengan model pengurangan risiko ini.
Baca Juga: Indonesia Disarankan Belajar dari Eropa Kurangi Kecanduan Rokok
Oleh karena itu, narasi pengurangan risiko yang efektif untuk masalah merokok harus didasarkan pada aspek-aspek tersebut. Strategi komunikasi ini juga menggunakan model kolaborasi HexaHelix yang melibatkan akademisi, masyarakat umum, pemerintah, pelaku usaha, media dan organisasi masyarakat untuk bersama mengatasi masalah tersebut.
"Komitmen dan kebijakan yang tepat sasaran dari pemerintah diperlukan untuk mengatasi masalah merokok secara tersegmentasi, yakni membedakan strategi untuk non-perokok agar tidak mulai merokok, perokok aktif yang ingin berhenti merokok dan perokok aktif yang sulit berhenti merokok," lanjut Kholil.
Faktor kunci keberhasilan untuk mengatasi masalah merokok secara tersegmentasi tersebut ialah membangun strategi komunikasi yang efektif, baik langsung maupun tidak langsung, dengan menggunakan peran media sosial, teknologi digital, dan kolaborasi dengan figur publik agar pesan yang disampaikan dapat tepat sasaran pada tiga target, yaitu non-perokok, perokok berhenti (quitter) dan perokok beralih (switcher).
Untuk membangun strategi komunikasi tersebut, narasi harus memuat faktor kesehatan, sosial budaya dan ekonomi. Kesehatan adalah prioritas utama karena semua perokok sadar bahwa merokok dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka, dan pengobatan penyakit akibat merokok memerlukan biaya yang mahal.
Lihat Juga :