alexametrics

Harga Minyak Terus Menguat di Tengah Berkurangnya Pasokan di Pasar

loading...
Harga Minyak Terus Menguat di Tengah Berkurangnya Pasokan di Pasar
Harga minyak mentah dunia masih terus merangkak naik di tengah berkurangnya pasokan di pasar. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Harga minyak masih menguat di akhir pekan ini didukung oleh pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan dampak dari sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Harga minyak mentah berjangka Brent berada di USD71,01 per barel, naik USD18 sen, atau 0,3% dari penutupan terakhir mereka. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di USD63,78 per barel, naik USD20 sen, atau 0,3% dari perdagangan sebelumnya.

"Kami melihat harga Brent dan WTI rata-rata USD75 per barel dan USD67 per barel masing-masing sampai akhir tahun ini, tetapi risiko cenderung tidak simetris ke atas," kata RBC Capital Markets, dalam sebuah catatan yang dikutip Reuters, Jumat (12/4/2019).



"Kenaikan harga yang disebabkan oleh faktor geopolitik dapat mengangkat harga minyak ke arah atau bahkan melampaui USD80 per barel," kata bank Kanada tersebut.

Pemangkasan pasokan yang dipimpin oleh OPEC, sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, dan meningkatnya pertempuran di Libya membuat harga minyak terus menanjak. Di sisi lain, pemerintah AS diperkirakan akan memperketat sanksi minyak terhadap Iran pada bulan Mei nanti.

OPEC dan sekutunya akan bertemu pada bulan Juni untuk memutuskan apakah akan terus menahan pasokan. Sementara, pemimpin OPEC de-facto, Arab Saudi, terlihat tertarik untuk meneruskan pemotongan produksi.

Namun, sumber-sumber yang dekat dengan kelompok tersebut mengatakan mungkin akan meningkatkan produksi mulai Juli jika gangguan produksi di tempat lain terus berlanjut.

Di sisi permintaan, sebagian besar pertumbuhan konsumsi bahan bakar dunia berasal dari Asia. "China dan India mencakup hampir 55% dari pertumbuhan permintaan global. Ditambah dengan negara-negara berkembang Asia lainnya, angkanya mencapai 80%," kata RBC Capital Markets.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak