Rupiah Sedikit Menguat, Hati-hati Bisa Tembus Rp17.000 per USD
Kamis, 27 Juni 2024 - 15:53 WIB
loading...
Nilai tukar (kurs) rupiah menembus level psikologis di atas Rp16.400 per USD. FOTO/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari ini kembali ditutup menguat tipis 7 poin atau 0,05 persen ke level Rp16.405 setelah sebelumnya di Rp16.413 per USD. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat dibuka pada level Rp16.424 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS menguat didorong arus masuk ke dolar terutama didorong oleh antisipasi data indeks harga PCE, yang akan dirilis pada hari Jumat. Angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, dan diperkirakan akan menjadi faktor dalam sikap bank sentral terhadap suku bunga.
"Data PCE diperkirakan menunjukkan inflasi sedikit menurun pada bulan Mei, namun tetap berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Inflasi yang stagnan memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sebuah skenario yang berdampak buruk bagi emas dan logam mulia," tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (27/6/2024).
Baca Juga: China dan Uni Eropa Panas Dingin, Ini Efeknya ke Rupiah
Komentar hawkish dari pejabat Fed juga memperkuat ekspektasi akan tingginya suku bunga dalam beberapa sesi terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam berinvestasi pada aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), dan membuat para pedagang menjadi lebih bias terhadap dolar dan utang AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS menguat didorong arus masuk ke dolar terutama didorong oleh antisipasi data indeks harga PCE, yang akan dirilis pada hari Jumat. Angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, dan diperkirakan akan menjadi faktor dalam sikap bank sentral terhadap suku bunga.
"Data PCE diperkirakan menunjukkan inflasi sedikit menurun pada bulan Mei, namun tetap berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Inflasi yang stagnan memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sebuah skenario yang berdampak buruk bagi emas dan logam mulia," tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (27/6/2024).
Baca Juga: China dan Uni Eropa Panas Dingin, Ini Efeknya ke Rupiah
Komentar hawkish dari pejabat Fed juga memperkuat ekspektasi akan tingginya suku bunga dalam beberapa sesi terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam berinvestasi pada aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), dan membuat para pedagang menjadi lebih bias terhadap dolar dan utang AS.
Lihat Juga :