Hanya Tumbuh 4,7% di Kuartal II, Ekonomi China Mulai Tersendat?
Senin, 15 Juli 2024 - 14:41 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,0% untuk tahun 2024, target yang menurut banyak analis ambisius dan mungkin memerlukan lebih banyak stimulus. "Sisa tahun 2024 akan ditentukan oleh keberhasilan pejabat dalam menahan jatuhnya pasar properti dan mendorong belanja domestik," kata Harry Murphy Cruise, ekonom di Moody's Analytics.
Berdasarkan data triwulanan, pertumbuhan ekonomi mencapai 0,7% dari 1,5% yang direvisi turun dalam tiga bulan sebelumnya, menurut data dari Biro Statistik Nasional (NBS). Untuk mengatasi permintaan domestik yang lemah dan krisis properti, China telah meningkatkan investasi infrastruktur dan menggelontorkan dana ke manufaktur berteknologi tinggi.
NBS mengatakan meskipun kondisi yang buruk menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terpukulnya pertumbuhan pada kuartal kedua, perekonomian menghadapi ketidakpastian eksternal dan kesulitan domestik yang meningkat pada paruh kedua.
Pertumbuhan ekonomi di China tidak merata dengan produksi industri yang melampaui konsumsi domestik, yang meningkatkan risiko deflasi di tengah penurunan properti dan meningkatnya utang pemerintah daerah.
Meskipun ekspor yang solid telah memberikan dukungan, meningkatnya ketegangan perdagangan kini menjadi ancaman.
Mencerminkan tren tersebut, data terpisah menunjukkan pertumbuhan produksi pabrik yang melampaui ekspektasi pada bulan Juni tetapi masih melambat dari bulan Mei.
Hal tersebut mengikuti data yang dirilis awal bulan ini yang menunjukkan ekspor China naik 8,6% pada bulan Juni dari tahun sebelumnya, dan impor secara tak terduga menyusut 2,3%, yang menunjukkan produsen melakukan pemesanan lebih awal untuk menghindari tarif dari mitra dagang. Namun, titik lemah yang lebih besar terlihat pada penjualan ritel, yang naik 2,0% tahun-ke-tahun, meleset dari perkiraan dan pertumbuhan paling lambat sejak Desember 2022.
Baca Juga: Kata Pakar, Penembakan Bisa Bikin Donald Trump Menang Pilpres AS
Berdasarkan data triwulanan, pertumbuhan ekonomi mencapai 0,7% dari 1,5% yang direvisi turun dalam tiga bulan sebelumnya, menurut data dari Biro Statistik Nasional (NBS). Untuk mengatasi permintaan domestik yang lemah dan krisis properti, China telah meningkatkan investasi infrastruktur dan menggelontorkan dana ke manufaktur berteknologi tinggi.
NBS mengatakan meskipun kondisi yang buruk menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terpukulnya pertumbuhan pada kuartal kedua, perekonomian menghadapi ketidakpastian eksternal dan kesulitan domestik yang meningkat pada paruh kedua.
Pertumbuhan ekonomi di China tidak merata dengan produksi industri yang melampaui konsumsi domestik, yang meningkatkan risiko deflasi di tengah penurunan properti dan meningkatnya utang pemerintah daerah.
Meskipun ekspor yang solid telah memberikan dukungan, meningkatnya ketegangan perdagangan kini menjadi ancaman.
Mencerminkan tren tersebut, data terpisah menunjukkan pertumbuhan produksi pabrik yang melampaui ekspektasi pada bulan Juni tetapi masih melambat dari bulan Mei.
Hal tersebut mengikuti data yang dirilis awal bulan ini yang menunjukkan ekspor China naik 8,6% pada bulan Juni dari tahun sebelumnya, dan impor secara tak terduga menyusut 2,3%, yang menunjukkan produsen melakukan pemesanan lebih awal untuk menghindari tarif dari mitra dagang. Namun, titik lemah yang lebih besar terlihat pada penjualan ritel, yang naik 2,0% tahun-ke-tahun, meleset dari perkiraan dan pertumbuhan paling lambat sejak Desember 2022.
Baca Juga: Kata Pakar, Penembakan Bisa Bikin Donald Trump Menang Pilpres AS
Lihat Juga :