Hanya Tumbuh 4,7% di Kuartal II, Ekonomi China Mulai Tersendat?
Senin, 15 Juli 2024 - 14:41 WIB
loading...
Perekonomian China hanya tumbuh sebesar 4,7% pada April-Juni, pertumbuhan paling lambat sejak kuartal I-2023. FOTO/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Ekonomi China tumbuh jauh lebih lambat dari perkiraan banyak pihak di kuartal II-2024, disebabkan penurunan properti yang berkepanjangan dan ketidakpastian pekerjaan yang menghambat pemulihan. Beijing diperkirakan terpaksa harus mengeluarkan lebih banyak stimulus guna memacu pertumbuhan ekonomi.
Perekonomian terbesar kedua di dunia itu hanya tumbuh sebesar 4,7% pada April-Juni, pertumbuhan paling lambat sejak kuartal I-2023 dan gagal mencapai perkiraan analis sebesar 5,1% dalam jajak pendapat Reuters. Pertumbuhan pada periode ini juga melambat dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang sebesar 5,3%. Yang menjadi perhatian khusus adalah sektor konsumen, dengan pertumbuhan penjualan ritel merosot ke level terendah dalam 18 bulan karena tekanan deflasi memaksa bisnis memangkas harga mulai dari mobil hingga makanan dan pakaian.
"Secara keseluruhan, data PDB yang mengecewakan menunjukkan bahwa jalan untuk mencapai target pertumbuhan 5% tetap menantang," kata Lynn Song, kepala ekonom untuk China Raya di ING, seperti dilansir Reuters, Senin (15/7/2024). "Efek negatif terhadap kekayaan akibat jatuhnya harga properti dan saham, serta pertumbuhan upah yang rendah di tengah pemangkasan biaya berbagai industri menyeret konsumsi dan menyebabkan peralihan dari pembelian tiket mahal ke konsumsi bertema dasar 'makan, minum, dan bermain'," tambahnya.
Baca Juga: Dunia Kocar-kacir Banjir Produk China, Nilainya Tembus Nyaris Rp5.000 Triliun
Krisis properti yang telah berlangsung selama bertahun-tahun semakin dalam pada bulan Juni karena harga rumah baru turun pada laju tercepat dalam sembilan tahun, menghancurkan kepercayaan konsumen dan membatasi kemampuan pemerintah daerah yang terlilit utang untuk menghasilkan dana segar melalui penjualan tanah.
Analis memperkirakan pemangkasan utang dan peningkatan kepercayaan akan menjadi fokus utama pertemuan kepemimpinan ekonomi utama di Beijing minggu ini, meskipun menyelesaikan salah satu masalah tersebut dapat menyulitkan untuk memperbaiki masalah lainnya.
Perekonomian terbesar kedua di dunia itu hanya tumbuh sebesar 4,7% pada April-Juni, pertumbuhan paling lambat sejak kuartal I-2023 dan gagal mencapai perkiraan analis sebesar 5,1% dalam jajak pendapat Reuters. Pertumbuhan pada periode ini juga melambat dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang sebesar 5,3%. Yang menjadi perhatian khusus adalah sektor konsumen, dengan pertumbuhan penjualan ritel merosot ke level terendah dalam 18 bulan karena tekanan deflasi memaksa bisnis memangkas harga mulai dari mobil hingga makanan dan pakaian.
"Secara keseluruhan, data PDB yang mengecewakan menunjukkan bahwa jalan untuk mencapai target pertumbuhan 5% tetap menantang," kata Lynn Song, kepala ekonom untuk China Raya di ING, seperti dilansir Reuters, Senin (15/7/2024). "Efek negatif terhadap kekayaan akibat jatuhnya harga properti dan saham, serta pertumbuhan upah yang rendah di tengah pemangkasan biaya berbagai industri menyeret konsumsi dan menyebabkan peralihan dari pembelian tiket mahal ke konsumsi bertema dasar 'makan, minum, dan bermain'," tambahnya.
Baca Juga: Dunia Kocar-kacir Banjir Produk China, Nilainya Tembus Nyaris Rp5.000 Triliun
Krisis properti yang telah berlangsung selama bertahun-tahun semakin dalam pada bulan Juni karena harga rumah baru turun pada laju tercepat dalam sembilan tahun, menghancurkan kepercayaan konsumen dan membatasi kemampuan pemerintah daerah yang terlilit utang untuk menghasilkan dana segar melalui penjualan tanah.
Analis memperkirakan pemangkasan utang dan peningkatan kepercayaan akan menjadi fokus utama pertemuan kepemimpinan ekonomi utama di Beijing minggu ini, meskipun menyelesaikan salah satu masalah tersebut dapat menyulitkan untuk memperbaiki masalah lainnya.
Lihat Juga :