UE Belum Satu Suara Soal Tarif 37,6% untuk Mobil Listrik China

Senin, 15 Juli 2024 - 20:48 WIB
loading...
UE Belum Satu Suara...
Jerman disebut abstain dalam pemungutan suara oleh negara-negara anggota Uni Eropa (UE) saat memberlakukan tarif sementara pada kendaraan listrik buatan China. Foto/Dok Reuters
A A A
BERLIN - Jerman disebut abstain dalam pemungutan suara oleh negara-negara anggota Uni Eropa (UE) saat memberlakukan tarif sementara pada kendaraan listrik buatan China . Hal ini berpeluang menjadi babak baru dalam perang dagang antara China dan Eropa.

Baca Juga: Perang Dagang China-Eropa Memanas, Pebisnis Barang Mewah Asal Prancis Teriak Jadi Korban

Sebelumnya UE menetapkan, tarif sementara hingga 37,6% untuk mobil listrik yang diimpor dari China. Meski tidak membutuhkan dukungan negara-negara anggota, tapi keputusan akhir soal tarif bisa diblokir jika mayoritas sebagai syarat dari 27 anggota UE menentangnya.

Seperti dilansir Reuters, abstain pada tahap pertama ini secara efektif berarti mendukung Komisi Eropa untuk melanjutkan negosiasi dengan Beijing mengenai kasus perdagangan terbesar UE.

Baca Juga: Dampak Mencolok Tarif Uni Eropa terhadap Ekspor Mobil Listrik China

Ekonomi terbesar Uni Eropa akan abstain karena penyelidikan anti-subsidi masih berlanjut dan negosiasi antara Komisi Uni Eropa dan pemerintah China sedang berlangsung, kata sumber tersebut kepada Reuters. Mereka menolak disebutkan namanya karena keputusan itu bersifat rahasia.

Jerman akan abstain dalam semangat "solidaritas kritis" dengan Komisi Uni Eropa, ungkap salah satu sumber.

Produsen mobil Jerman, yang mencetak sepertiga dari penjualan mereka tahun lalu di China, menentang tarif tersebut. Mereka khawatir dengan aksi balasan bakal mempengaruhi hubungan perdagangan dengan mitra dagang terpenting kedua negara itu.

Sementara itu Prancis telah menjadi salah satu pendukung paling kuat, sedangkan Hongaria mengutuknya. Anggota lain masih ragu-ragu tentang bagaimana memilih, soal uji coba resmi pertama untuk langkah tarif Komisi.

Uni Eropa memulai penyelidikan tanpa adanya keluhan dari industri.

Ditanya terkait kabar abstain, Kanselir Olaf Scholz mengatakan, Jerman mengharapkan eksekutif Uni Eropa akan berhasil mencapai kesepakatan dengan China tentang EV. Ia menekankan bahwa kesepakatan akan baik untuk industri mobil Eropa.

Dia menolak untuk mengkonfirmasi bagaimana Jerman akan memilih. "Ini adalah kendaraan kompetitif global yang tidak perlu ditakuti adanya persaingan," katanya kepada wartawan setelah pertemuan dengan perdana menteri Jepang.

"Tapi kita harus selalu memastikan kondisinya adil di semua sisi," sambungnya.

Pemungutan Suara pertama

Pemungutan suara pertama ini, dibuat secara tertulis dan rahasia, serta tidak mengikat. Pada tahap sementara, Komisi punya kekuatan penuh untuk menerapkannya, meski seharusnya berkonsultasi dengan anggota UE dan mempertimbangkan posisi mereka.

Selanjutnya akan diikuti oleh pemungutan suara akhir ketika penyelidikan rampung, saat itu Komisi dapat mengusulkan tugas definitif, biasanya berlaku selama lima tahun.

Komisi mengatakan bea masuk diperlukan untuk melawan pinjaman murah, tanah dan bahan baku dan subsidi lainnya dan tujuannya adalah kesetaraan, bukan menutup pembuat mobil China, seperti yang direncanakan tarif 100% oleh Amerika Serikat.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Dorong Ekosistem EV,...
Dorong Ekosistem EV, Wuling Berkolaborasi dengan Grab
Rekomendasi
Belanda Pesta Gol, Swedia...
Belanda Pesta Gol, Swedia Dibantai 5-1 di Houston
Venue Pernikahan Seribu...
Venue Pernikahan Seribu Tamu Hadir Dekat Bandara Soekarno-Hatta
Belanda vs Swedia: Oranje...
Belanda vs Swedia: Oranje Lebih Dijagokan
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Diskon 20% Tarif Tol...
Diskon 20% Tarif Tol Jakarta-Semarang untuk Mudik Lebaran 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved