Ritel Kian Dekat ke Digitalisasi
Senin, 24 Agustus 2020 - 06:03 WIB
loading...
A
A
A
Menurut pengalamannya, pada saat penerapan kebijakan PSBB di DKI Jakarta, pihaknya mendorong peritel untuk meningkatkan penjualan secara daring. Selain itu, penjualan juga dilakukan melalui layanan aplikasi pesan instan WhatsApp. Konsep lainnya yaitu penyediaan layanan Drive-Thru.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan bahwa peritel harus menjalankan beberapa strategi, seperti memberikan diskon dan mengurangi uang muka. Semua tindakan itu mungkin akan mengurangi keuntungan atau mepet dengan biaya produksi.
“Kalau mereka (masyarakat) tidak ke mal, penjualan daring harus menjadi prioritas. Ini bisa di satu platform digital atau disebar ke banyak platform e-commerce. Jadi tidak tergantung pada platform milik dia, platform lain yang banyak relasi,” ujarnya. (Lihat videonya: Pembunuh Keji Satu Keluarga di Sukahrjo Ditangkap)
Sebenarnya baik perusahaan ritel besar maupun usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah lama bermain daring. Namun, wabah Covid-19 diprediksi meningkatkan dan mengalihkan penjualan ke model daring, sehingga Tauhid mengatakan perlu dilakukan penambahan layanan, seperti sistem pengiriman yang cepat.
Tantangan lain peritel di Indonesia adalah terkait ketersediaan perangkat elektronik, seperti ponsel pintar dan laptop. Padahal, di sisi lain ada juga kebutuhan anak sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring.
“Itu bukan hal yang mudah bagi pelaku UMKM. Paling hanya 15–20% yang menggunakan komputer dan HP. Banyak hal yang menyebabkan itu, pengetahuan dan keterbatasan, belum percaya pada pembayaran, dan apakah kualitas akan sama seperti yang mereka hasil kalau tidak daring,” tuturnya. (Andika H Mustaqim/Faorick Pakpahan/Fahmi W Bahtiar)
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan bahwa peritel harus menjalankan beberapa strategi, seperti memberikan diskon dan mengurangi uang muka. Semua tindakan itu mungkin akan mengurangi keuntungan atau mepet dengan biaya produksi.
“Kalau mereka (masyarakat) tidak ke mal, penjualan daring harus menjadi prioritas. Ini bisa di satu platform digital atau disebar ke banyak platform e-commerce. Jadi tidak tergantung pada platform milik dia, platform lain yang banyak relasi,” ujarnya. (Lihat videonya: Pembunuh Keji Satu Keluarga di Sukahrjo Ditangkap)
Sebenarnya baik perusahaan ritel besar maupun usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah lama bermain daring. Namun, wabah Covid-19 diprediksi meningkatkan dan mengalihkan penjualan ke model daring, sehingga Tauhid mengatakan perlu dilakukan penambahan layanan, seperti sistem pengiriman yang cepat.
Tantangan lain peritel di Indonesia adalah terkait ketersediaan perangkat elektronik, seperti ponsel pintar dan laptop. Padahal, di sisi lain ada juga kebutuhan anak sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring.
“Itu bukan hal yang mudah bagi pelaku UMKM. Paling hanya 15–20% yang menggunakan komputer dan HP. Banyak hal yang menyebabkan itu, pengetahuan dan keterbatasan, belum percaya pada pembayaran, dan apakah kualitas akan sama seperti yang mereka hasil kalau tidak daring,” tuturnya. (Andika H Mustaqim/Faorick Pakpahan/Fahmi W Bahtiar)
(ysw)
Lihat Juga :