alexametrics

Perang Dagang Masih Jadi Tantangan Terbesar Ekonomi Semester Kedua/2019

loading...
Perang Dagang Masih Jadi Tantangan Terbesar Ekonomi Semester Kedua/2019
Ekonom menyebutkan bahwa Donald Trump selaku Presiden AS merupakan sosok yang terprediksi untuk tidak terprediksi, yang bisa mencetuskan perang dagang kapan saja. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Ekonomi Indonesia di Semester I 2019 cukup tertantang dengan yield tinggi dan tegangan politik akibat Pemilu. Namun, melihat adanya penurunan tensi politik terutama setelah terpilihnya kembali Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia, ekonom menilai seharusnya perekonomian Indonesia di semester kedua membaik.

"Objektif utama maupun tantangan utama merupakan trade war yang sebenarnya tidak menguntungkan siapapun, baik itu pihak AS maupun China," ujar ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Fikri C. Permana di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Fikri menyebutkan bahwa Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat (AS) merupakan sosok yang terprediksi untuk tidak terprediksi, terutama dalam dua tahun terakhir yang bisa mencetuskan perang dagang kapan saja.



"Semakin mengecilnya perbedaan yield US-Treasury (US-T) 10 tahun dan US-2T menambah risiko pasar utang global. Investor melihat adanya risiko pada US-T ini, bahkan Powell melihat ini waktunya Fed dovish, inflasinya tidak sesuai harapan," jelasnya.

Sambung dia menambahkan bahwa negara-negara Asia Pasifik sebenarnya sudah menjadi lebih akomodatif mengikuti tren Fed yang dovish, namun sejauh ini Indonesia masih dinilai fragile untuk capital flow dari asing.

"Sebenarnya kita masih ada ruang 3% dalam suku bunga acuan untuk mencapai inflasi yang ditargetkan, lebih besar daripada negara lain yang sejauh hanya bisa di bawah 3%, ini bisa berdampak positif terhadap ekonomi kita," imbuhnya.

Di sisi lain dari segi harga komoditas harga emas dunia perlahan naik, sedangkan harga minyak dunia (Brent) cukup fluktuatif. "Indonesia merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia, diharapkan harga minyak menurun supaya Indonesia bisa menghindari trade deficit yang menjadi momok," ujar Fikri.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak