Dedolarisasi Diramal Jadi Bumerang, Pakar: Ide Bagus, tapi Sangat Menakutkan

Rabu, 31 Juli 2024 - 08:50 WIB
loading...
A A A
Christian adalah salah satu dari sekelompok skeptis terhadap dedolarisasi di Wall Street, yang telah mengesampingkan tren itu tidak lebih dari kata kunci. Dedolarisasi adalah "mitos", "tidak masuk akal", dan "lelucon buruk," kata Christian kepada klien dalam presentasi awal tahun ini.

Ia menambahkan, tidak menganggap ketakutan tentang dolar yang digantikan oleh mata uang lain sebagai sesuatu yang terlalu serius. Menurutnya untuk negara-negara yang bersikeras tidak menggunakan dolar bakal menghadapi serangkaian konsekuensi ekonomi.

Setidaknya ada 3 konsekuensi yang harus dihadapi bagi para pendukung dedolarisasi:

1. Masalah Pembayaran

Pertama, negara-negara dedolarisasi dibayangi risiko masalah pembayaran yang lebih tinggi, kata Christian. Dia merujuk kepada India, yang bersikeras membeli minyak Rusia dalam rupee dan dirham – mata uang UEA (Uni Emirate Arab) – tahun lalu. Para pedagang mengatakan, keputusan itu menyebabkan setidaknya tujuh kapal minyak menuju India kembali ke Rusia, seperti dilaporkan Reuters.

Konflik pembayaran berasal dari fakta bahwa mata uang lain tidak selikuid dolar, karena greenback begitu banyak digunakan di pasar global dan dipegang di antara bank sentral.

Dolar dipakai dalam 88% dari semua transaksi mata uang harian pada April 2022, menurut Bank of International Settlements, dan menyumbang 54% dari semua cadangan devisa, berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF).

Sementara itu mata uang lain, seperti yuan China, terikat oleh kontrol modal yang ketat, yang juga membuatnya kurang likuid dan karenanya menjadi kurang menarik daripada dolar. Christian juga mengutarakan, sulit untuk dengan cepat meningkatkan likuiditas mata uang tanpa memicu inflasi yang tinggi.

"Ada banyak orang yang ragu-ragu untuk berdagang dan memegang cadangan, kekayaan serta rekening bank dalam yuan karena itu bukan mata uang yang sepenuhnya bergerak bebas. Jadi ada batasan di dalamnya," tambahnya.

2. Perdagangan Terbatas

Kedua, negara-negara yang mencoba menghapus dolar dapat menghambat impor dan ekspor mereka. Sekali lagi, itu karena dolar adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia – dan tidak menggunakan mata uang itu dapat membatasi ruang lingkup mitra dagang suatu negara. Ungkap Christian, hal itu pada akhirnya juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Bagaimana Kebijakan...
Bagaimana Kebijakan Bank Sentral Berpengaruh terhadap Pasar Mata Uang?
IHSG Ditutup Menguat...
IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Rupiah Ambruk ke 18.128...
Rupiah Ambruk ke 18.128 per Dolar AS, Apa Pemicu Sebenarnya?
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Rekomendasi
Kapolri Bedah Rumah...
Kapolri Bedah Rumah Guru Ngaji di Palembang, Begini Penampakannya
Israel Syok Senator...
Israel Syok Senator AS Pro-Zionis Lindsey Graham Mendadak Meninggal
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan ke-2 Hari Ini, Roy Suryo Siap Dengarkan Jawaban Polda Metro Jaya
Berita Terkini
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved