alexametrics

Suku Bunga Acuan BI Diproyeksi Ekonom Bisa Turun Dua Kali Lagi

loading...
Suku Bunga Acuan BI Diproyeksi Ekonom Bisa Turun Dua Kali Lagi
Bank Indonesia (BI) menurut ekonom masih mempunyai ruang untuk menurunkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Repo Rate sebanyak dua kali lagi. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menurut ekonom masih mempunyai ruang untuk menurunkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Repo Rate sebanyak dua kali lagi dengan masing-masing sebesar 25 bps. Sehingga suku bunga acuan BI hingga akhir tahun 2019, bisa berada pada level 50 bps.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, beberapa alasan yang membuat ruang BI masih terbuka untuk penurunan suku bunga yakni bila melihat kondisi eksternal. Menurutnya dari kondisi ekonomi global ada ancaman resesi di Amerika Serikat (AS) dan Singapura yang terbaru.

"Mestinya sektor riil membutuhkan stimulus atau semacam dorongan moneter berupa penurunan suku bunga. Sehingga biaya peminjamanya bisa lebih rendah," katanya saat dihubungi di Jakarta.



Poin kedua terang dia, penurunan suku bunga diperlukan untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi agar tidak jauh di bawah 5%. Maka perumbuhan kredit harus didorong. "Nah itu bisa dilakukan dengan memangkas bunga tadi," ungkapnya.

Ketiga, inflasi sampai akhir tahun diperkirakan akan rendah di kisaran 3,2%. Faktor keempat yakni adanya tren dari The Fed alias Bank Sentral AS yang akan kembali menurunkan suku bunga. Jadi jika Bank Indonesia bisa lebih preemptive (menurunkan suku bunga) sebelum fed menurunkan suku bunganya, maka itu menurut Bhima menjadi langkah yang patut di apresiasi pasar.

"Kelima, karena stabilitas nilai tukar rupiah masih dalam range relatif terjaga walau masih ada pelemahan. Sehingga BI tidak perlu menaikan suku bunga, cukup dengan intervensi cadangan devisa apabila rupiah kembali melemah," paparnya.

Sementara Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah memprediksi, BI belum akan menurunkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini. Pasalnya tekanan pelemahan rupiah masih besar serta stand kebijakan the fed juga masih tidak jelas dovish atau balik hawkish.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak