Pemerintah Sudah Tarik Utang Baru Rp266,3 Triliun per Juli 2024
Selasa, 13 Agustus 2024 - 14:58 WIB
loading...
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi pembiayaan utang atau penarikan utang baru mencapai Rp266,3 triliun hingga 31 Juli 2024. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Keuangan ( Kemenkeu ) mencatat realisasi pembiayaan utang atau penarikan utang baru mencapai Rp266,3 triliun hingga 31 Juli 2024. Realisasi pembiayaan utang mengalami pertumbuhan yang tinggi bila dibandingkan realisasi tahun lalu, yakni sebesar 36,6%.
“Sampai dengan 31 Juli, walau APBN sudah membuat posturnya seperti itu, dari pembiayaan utang yang Rp648 triliun, baru realisasi Rp266,3 triliun, ini berarti realisasi baru 41,1 persen,” ungkap Menteri Keuangan atau Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Agustus 2024, Selasa (13/8/2024).
Baca Juga: Belanja Pemerintah Bengkak, APBN Defisit Rp93,4 Triliun per Juli 2024
Kondisi itu terbilang wajar mengingat penerimaan negara tahun lalu cukup tinggi berkat kenaikan signifikan dari harga komoditas. Tahun lalu penerbitan SBN mengalami penurunan luar biasa, dariRp437,8 triliun menjadi hanya Rp184,1 triliun.
"Tahun ini sudah naik ke Rp253 triliun, karena semua komoditas sudah reverse back harga, hingga memang defisit diperkirakan pasti lebih tinggi dari 2023, ini sudah terlihat dari pembiayaan kita," ujarnya.
“Sampai dengan 31 Juli, walau APBN sudah membuat posturnya seperti itu, dari pembiayaan utang yang Rp648 triliun, baru realisasi Rp266,3 triliun, ini berarti realisasi baru 41,1 persen,” ungkap Menteri Keuangan atau Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Agustus 2024, Selasa (13/8/2024).
Baca Juga: Belanja Pemerintah Bengkak, APBN Defisit Rp93,4 Triliun per Juli 2024
Kondisi itu terbilang wajar mengingat penerimaan negara tahun lalu cukup tinggi berkat kenaikan signifikan dari harga komoditas. Tahun lalu penerbitan SBN mengalami penurunan luar biasa, dariRp437,8 triliun menjadi hanya Rp184,1 triliun.
"Tahun ini sudah naik ke Rp253 triliun, karena semua komoditas sudah reverse back harga, hingga memang defisit diperkirakan pasti lebih tinggi dari 2023, ini sudah terlihat dari pembiayaan kita," ujarnya.
Lihat Juga :