Dana Desa Dorong Kearifan Lokal Jadi Kegiatan Ekonomi Warga
Selasa, 25 Agustus 2020 - 22:31 WIB
loading...
A
A
A
Pegung, kata Wika, terbuat dari papan kayu. Meski secara desain pembangunan beda, fungsi pegung tak lain untuk pembasahan lahan gambut. "Sebenarnya warga punya tapi nggak sadar. Padahal fungsinya pembasahan, membantu menjaga air tetap ada di lahan gambut, tetap lembab," kata dia.
Setelah mendengar paparan warga, Wika mengajak kolaborasi. Dia menggandeng seorang warga bernama Karni untuk mengembangkan sekat kanal secara swadaya. Karni diajak karena punya pengalaman membuat pegung dan parit untuk membawa kayu dari hutan. Karni berinisiatif memanfaatkan kayu sisa proyek pembangunan sekolah dan terpal bekas. Di dusunnya, dia mulai membangun sekat kanal.
Kolaborasi pengalaman milik Karni dan pengetahuan mengenai desain pembasahan lahan yang diberikan BRG ini awalnya sempat diragukan. Tetapi, pembuktian datang ketika musim kemarau tahun 2018. Tidak adanya sekat membuat api kiriman dari desa tetangga membuat kebakaran di lahan gambut. Beruntung. Pegung yang diinisiasi warga masih menyimpan air. Dengan persediaan air yang ada, proses pemadaman terbantu.
Pembuktian inilah mendorong warga di dua dusun di desa Tri Mandayan mulai membangun sekat kanal secara swadaya. Tak ketinggalan, pemerintah Desa Tri Mandayan memperkuat kolaborasi dan pembangunan sekat kanal itu dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Pihak desa juga menguatkan peran edukasi dengan Peraturan Desa (Perdes) mengenai pengelolaan ekosistem gambut.
Kepala Desa Tri Mandayan, Bujang Suhardi mengatakan, selain memasukkan rencana penanggulangan kebakaran lahan, pihaknya juga menyiapkan pelatihan. Pihak desa menggelar pelatihan penggunaan peralatan pemadam kebakaran. "Ada peralatan yang untuk memadamkan kebakaran yang diajarkan," ucap Suhardi.
Setelah mendengar paparan warga, Wika mengajak kolaborasi. Dia menggandeng seorang warga bernama Karni untuk mengembangkan sekat kanal secara swadaya. Karni diajak karena punya pengalaman membuat pegung dan parit untuk membawa kayu dari hutan. Karni berinisiatif memanfaatkan kayu sisa proyek pembangunan sekolah dan terpal bekas. Di dusunnya, dia mulai membangun sekat kanal.
Kolaborasi pengalaman milik Karni dan pengetahuan mengenai desain pembasahan lahan yang diberikan BRG ini awalnya sempat diragukan. Tetapi, pembuktian datang ketika musim kemarau tahun 2018. Tidak adanya sekat membuat api kiriman dari desa tetangga membuat kebakaran di lahan gambut. Beruntung. Pegung yang diinisiasi warga masih menyimpan air. Dengan persediaan air yang ada, proses pemadaman terbantu.
Pembuktian inilah mendorong warga di dua dusun di desa Tri Mandayan mulai membangun sekat kanal secara swadaya. Tak ketinggalan, pemerintah Desa Tri Mandayan memperkuat kolaborasi dan pembangunan sekat kanal itu dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). Pihak desa juga menguatkan peran edukasi dengan Peraturan Desa (Perdes) mengenai pengelolaan ekosistem gambut.
Kepala Desa Tri Mandayan, Bujang Suhardi mengatakan, selain memasukkan rencana penanggulangan kebakaran lahan, pihaknya juga menyiapkan pelatihan. Pihak desa menggelar pelatihan penggunaan peralatan pemadam kebakaran. "Ada peralatan yang untuk memadamkan kebakaran yang diajarkan," ucap Suhardi.
Lihat Juga :