alexametrics

Harumnya Bisnis Kopi Melintasi Generasi

loading...
Harumnya Bisnis Kopi Melintasi Generasi
Hari Kopi Internasional dirayakan setiap 1 Oktober. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Budaya minum kopi tengah menjangkiti milenial seiring menjamurnya bisnis kopi kekinian. Inovasi bisnis, perubahan selera konsumen, dan geliat ekosistem digital turut berperan dalam mengubah lanskap bisnis perkopian di Tanah Air.

Di kota-kota besar khususnya, gerai kopi sangat mudah ditemui dan saling bersaing menawarkan variasi rasa minuman kopi yang sesuai selera generasi muda. Tak hanya konsumennya yang muda, pelaku bisnisnya pun banyak yang milenial, bahkan ada juga dari generasi Z (rentang usia 15-24 tahun).

"Tren bisnis kopi sudah viral, mulai dari anak putus sekolah sampai profesional, semua sudah merambah ke bisnis kopi," ujar Penasehat Asosiasi Kopi Specialty Indonesia (SCAI) Lisa Ayodhia saat ditemui di sela Rembug Kopi Nasional 2019 di Jakarta, belum lama ini.



Menurut Lisa, bisnis kopi memang sangat menjanjikan. Pasalnya, bahan bakunya tersedia dan pasarnya juga besar. Terlebih lagi, Indonesia punya puluhan jenis kopi dari berbagai daerah yang citarasanya sudah dikenal dunia.

"Maka, tidak heran kalau bisnis kopi berkembang, mulai dari 'starbike' (penjual kopi keliling pakai sepeda) yang harga kopinya cuma Rp3.000-Rp5.000 sampai ke kafe-kafe di mal yang menawarkan kopi spesial. Semua ada pasarnya," tukas Bendahara Umum Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) itu.

Wakil Ketua Umum Dekopi Mahatma Gandhi mengamini adanya tren ketertarikan milenial dalam mengonsumsi kopi dan berbisnis kopi. "Alhamdulillah ternyata anak muda sekarang sangat besar minatnya di kopi. Saya pun punya bisnis kopi dan sekarang bukan saya lagi yang kelola tapi anak-anak kita karena bisnis kopi ini simple, modal tidak seberapa, tapi untungnya besar," tuturnya.

Dia pun mengajak pelaku usaha dan masyarakat meningkatkan penggunaan dan konsumsi produk dalam negeri sehingga turut mendorong berkembangnya kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi. "Yang belum minum kopi silakan minum kopi, yang belum jualan silakan jualan kopi Indonesia," tukasnya. (Baca Juga: Kopi Indonesia Siap Bersaing Dengan Pemain Kopi Luar Negeri)

Seiring perubahan selera konsumen, produsen yang sudah lama bermain di industri kopi pun turut berinovasi. Hal ini dikemukakan Adi Haryono, Direktur PT Santos Jaya Abadi selaku produsen Kopi Kapal Api yang sudah malang-melintang puluhan tahun di sektor ini dan melahirkan lebih dari 20 varian produk minuman kopi.

"Contohnya tahun 1990 mulai tren kopi sachet yang pakai gula, lalu berkembang lagi kopi 3 in 1 yang memadukan kopi, gula dan susu. Kemudian berkembang lagi yang pakai krimer. Ini terus diluncurkan sesuai keinginan pasar. Tren seperti ini kita ikuti," ungkapnya kepada SINDOnews.

Mengingat produk Kapal Api juga sudah diekspor ke mancanegara, tren selera konsumen di luar negeri juga menjadi pertimbangan dalam berinovasi.

"Contohnya kita punya Kapal Api Signature yang rasanya beda, karena di luar negeri inginnya yang seperti ini. Trennya sedang mengarah kesana jadi kita antisipasi. Orang di luar negeri itu kalau mereka minum kopi Indonesia, wah rasanya mantap sekali," tutur peraih Coffee and Culture Awards kategori Inspirator Inovatif Industri Kopi Indonesia. (Baca Juga: Kisah Syeikh As-Syadzili Penemu Kopi Pertama Kali)

Sementara itu, milenial pemilik gerai kopi Lokaya, Talita, 18, mengaku ketertarikannya berbisnis kopi diawali kesukaannya dan adik-adiknya jajan kopi kekinian.

"Kita lihat lagi tren juga minuman kopi susu, jadi saya ajak adik yuk kita buka kedai kopi," ujar mahasiswa yang masih duduk di semester I itu.

Meski masih hijau di dunia bisnis, dengan dukungan moral dan finansial dari keluarga, Talita pun memberanikan diri buka kedai kopi di salah satu ruko di Jakarta. Pemasaran melalui media sosial diakuinya sangat membantu produknya lebih dikenal masyarakat. Bahkan, dia sudah ancang-ancang mengembangkan bisnis melalui waralaba.

"Pesan saya untuk generasi muda, kalau mau berusaha jangan takut salah karena semua bisnis pasti ada risikonya tapi juga ada jalan keluarnya. Jadi, mulai aja dulu," tegasnya.

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga mengatakan, pemerintah telah menggulirkan sejumlah program guna mendorong perkembangan kewirausahaan dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Antara lain akses ke permodalan dan kredit murah, menurunkan besaran pajak UKM, serta gratis biaya mendirikan badan usaha.

"Saya lihat banyak UKM yang nggak berani bikin badan usaha karena takut dikejar pajak. Maka, pajaknya kita turunkan dan pendirian badan usahanya juga gratis. Selain itu, bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2014 itu 22% untuk UKM, sekarang sudah 7%," ungkapnya.

Menurut dia, program tersebut ditujukan untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. "Peningkatan pertumbuhan ekonomi harus diikuti juga dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Sebagai informasi, hari ini warga dunia merayakan Hari Kopi Internasional. Mengutip situs www.internationalcoffeeday.org, Hari Kopi Internasional pada 1 Oktober menyatukan pecinta kopi dalam perayaan global untuk berbagi kecintaan mereka terhadap kopi dan mendukung jutaan petani yang mata pencahariannya bergantung pada kopi.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak