alexametrics

Biaya Berobat Mahal, Sri Mulyani Pertimbangkan Ubah Pajak Alkes

loading...
Biaya Berobat Mahal, Sri Mulyani Pertimbangkan Ubah Pajak Alkes
Menkeu mengakui biaya berobat yang masih tinggi di dalam negeri perlu ditangani. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengakui biaya berobat yang masih sangat tinggi di Tanah Air. Hal ini juga diakuinya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Dia menyebutkan, alasan biaya berobat tinggi salah satunya dikarenakan pengenaan pajak bagi alat kesehatan (alkes) yang cukup mahal. Namun tak hanya itu, Menkeu menegaskan bahwa persoalan tingginya biaya berobat harus ditinjau dari banyak sisi."Kalau kita bicara tentang sistem kesehatan kita harus lihat semuanya, ada pekerja medis, paramedis, obatnya, farmasi, bicara tentang rumah sakitnya, tentang keseluruhan sistem. Kita lihat semuanya," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Dia menambahkan, masih banyak masyarakat Indonesia yang senang berobat ke luar negeri seperti ke Malaysia, lantaran biaya berobat di sana lebih murah. "Buat kita semua kalau ada fenomena seperti itu kan kita harus respons. Pasti ada sesuatu di dalam sistem kita yang salah. Saya rasa kita harus melihat semua elemennya," jelasnya.



Terkait dengan itu, Sri Mulyani mengatakan akan membuat kebijakan yang lebih baik terutama soal aturan pajak alat kesehatan yang terbilang masih tinggi. Terlepas dari itu, imbuh dia, upaya menekan biaya pengobatan di dalam negeri tetap harus dibicarakan oleh semua pihak yang berkepentingan agar solusi yang diperoleh menyeluruh.

"Saya tentu mengimbau kepada semuanya kalau komitmen mau bangun bersama mari kita duduk bersama. Karena kalau merespons dengan satu pihak nanti tidak bisa melihat keseluruhan masalah yang utuh yang seharusnya kita lihat bersama. Sehingga nanti kita bisa lebih fair melihat apa-apa yang bisa kita perbaiki bersama," tandasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak