Pimpin 'Genk' Negara Selatan, China Iming-iming Utang Rp462 Triliun
Jum'at, 06 September 2024 - 07:25 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai perbandingan, pemberi pinjaman dari China memberikan pinjaman sebesar USD4,61 miliar kepada delapan negara Afrika pada 2023, menurut sebuah studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembangunan Global Universitas Boston.
Meskipun jumlah tersebut merupakan peningkatan pertama sejak 2016, penulis laporan tersebut mengatakan bahwa China tidak mungkin meningkatkan pengeluarannya karena masalah keberlanjutan utang. Para analis termasuk Jana de Kluiver, seorang peneliti di Institute of Security Studies di Afrika Selatan, mempertanyakan struktur model pinjaman China.
"Kekhawatiran yang sesungguhnya adalah sifat dari proyek-proyek yang didanai oleh pinjaman-pinjaman ini, bersama dengan kurangnya transparansi dan pilihan-pilihan yang terbatas untuk restrukturisasi dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya," kata Kluiver dilansir dari Nikkei Asia, Jumat (6/10/2024).
Tawaran keuangan dari Tiongkok kemungkinan akan disambut baik karena banyak negara kurang berkembang di Afrika yang membutuhkan pendanaan dan investasi untuk mencapai tujuan pembangunan tetapi mungkin akan ada beberapa tantangan.
"Kurangnya kapasitas regulasi di pihak Afrika dapat menyulitkan untuk terlibat secara efektif dengan para aktor ini, terutama jika ada kurangnya koordinasi," kata Kluiver.
Baca Juga: Soal Keputusan Indonesia Gabung BRICS, Menlu Retno: Ada di Tangan Prabowo
Meskipun jumlah tersebut merupakan peningkatan pertama sejak 2016, penulis laporan tersebut mengatakan bahwa China tidak mungkin meningkatkan pengeluarannya karena masalah keberlanjutan utang. Para analis termasuk Jana de Kluiver, seorang peneliti di Institute of Security Studies di Afrika Selatan, mempertanyakan struktur model pinjaman China.
"Kekhawatiran yang sesungguhnya adalah sifat dari proyek-proyek yang didanai oleh pinjaman-pinjaman ini, bersama dengan kurangnya transparansi dan pilihan-pilihan yang terbatas untuk restrukturisasi dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya," kata Kluiver dilansir dari Nikkei Asia, Jumat (6/10/2024).
Tawaran keuangan dari Tiongkok kemungkinan akan disambut baik karena banyak negara kurang berkembang di Afrika yang membutuhkan pendanaan dan investasi untuk mencapai tujuan pembangunan tetapi mungkin akan ada beberapa tantangan.
"Kurangnya kapasitas regulasi di pihak Afrika dapat menyulitkan untuk terlibat secara efektif dengan para aktor ini, terutama jika ada kurangnya koordinasi," kata Kluiver.
Baca Juga: Soal Keputusan Indonesia Gabung BRICS, Menlu Retno: Ada di Tangan Prabowo
Lihat Juga :