Trump Ancam Kenakan Tarif 100% ke Negara yang Tinggalkan Dolar

Senin, 09 September 2024 - 23:18 WIB
loading...
Trump Ancam Kenakan...
Donald Trump mengumumkan strategi baru yang berani untuk menjaga dominasi dolar AS secara global.Foto/AP
A A A
JAKARTA - Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump mengumumkan strategi baru yang berani untuk menjaga dominasi dolar AS secara global selama kampanyenya di Wisconsin pada hari Sabtu. Trump berjanji untuk mengenakan tarif 100% pada barang-barang dari negara-negara yang tidak lagi menggunakan dolar dalam perdagangan internasional.

“Anda meninggalkan dolar dan Anda tidak berbisnis dengan Amerika Serikat karena kami akan mengenakan tarif 100 persen pada barang-barang Anda,” Trump menyatakan, menggarisbawahi sikap proteksionisnya

Baca Juga : Khawatir Dolar AS Runtuh, Trump Ingin Cabut Sanksi terhadap Rusia

Pernyataan ini menyusul diskusi panjang antara Trump dan para penasihat ekonominya, yang telah mempertimbangkan berbagai tindakan untuk menghukum negara-negara yang memperdagangkan mata uang selain dolar. Ini termasuk kontrol ekspor, tuduhan manipulasi mata uang, dan tarif, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg News.

Mempertahankan dominasi dolar adalah isu utama bagi Trump. Seperti diketahui, aliansi ekonomi BRICS yaitu China, India, Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan sedang menjajaki de-dolarisasi.

Hal ini tentu menambah urgensi pada pesan ekonomi kampanye Trump. Meskipun dominasi dolar perlahan menurun, dolar masih menyumbang 59% dari cadangan devisa resmi pada awal 2024, menurut International Monetary Fund (IMF). Euro adalah mata uang terdekat berikutnya, yang menguasai hampir 20%, sebagaimana dilaporkan oleh TOI.

Dalam beberapa tahun terakhir, dari Brasil hingga Asia Tenggara, negara-negara telah menyerukan agar perdagangan dilakukan dalam mata uang selain dolar AS.

Sementara itu, Partner and Chief Economist at GROW Investment Hao Hong menilai penerapan tarif 100% itu akan sama-sama berdampak buruk bagi AS dan saingan ekonomi terbesarnya, China.

"Karena sektor ekspor Tiongkok sangat kompetitif, sektor ini menjadi kekuatan pendorong dalam menurunkan inflasi global," kata Hong dilansir dari CNBC

"Jika Anda mengenakan tarif 100% pada ekspor Tiongkok, misalnya, orang hanya dapat membayangkan seberapa tinggi inflasi AS nantinya," katanya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar defisit perdagangan AS akan beralih ke sekutu seperti Meksiko dan Kanada.

Sementara itu, bagi China kata Hong, tarif yang tinggi tersebut akan merugikan ekspornya pada saat pertumbuhan ekspor sudah tersendat, dan sektor manufaktur negara tersebut telah mengalami kelebihan kapasitas.

Baca Juga : Mengenal ASEAN LCT, Skema Buang Dolar AS yang Sudah Diterapkan Indonesia Cs

Awal tahun ini, Trump telah mengusulkan peningkatan tarif pada semua impor China sebesar 60% atau lebih jika Ia terpilih, berdasarkan perang dagang AS-China yang dimulai pada masa jabatan pertamanya. Secara terpisah, Ia mengatakan akan mengenakan tarif menyeluruh sebesar 10% pada semua impor AS.

Pada bulan Juli, ekonom Stephen Roach mengatakan kepada "Squawk Box Asia" di CNBC bahwa tarif China tersebut pastinya akan meningkatkan inflasi di AS.
(fch)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
AS-Iran Sepakat Damai,...
AS-Iran Sepakat Damai, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Rekomendasi
Selat Hormuz Tak Akan...
Selat Hormuz Tak Akan Lagi seperti Dulu, Ini 3 Alasannya
KAMMI Sesalkan Pembubaran...
KAMMI Sesalkan Pembubaran Forum Diskusi di UGM
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Berita Terkini
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved