Rusia Kejar Rekor Pendapatan, Bakal Kantongi Rp1.783 Triliun dari Jualan Minyak dan Gas
Sabtu, 05 Oktober 2024 - 19:59 WIB
loading...
A
A
A
Proyeksi tersebut didasarkan pada harga ekspor rata-rata minyak, dan pendapatan yang relatif rendah yang diposting pada paruh pertama tahun 2023. Baca Juga: Harga Murah, India Berencana Terus Membeli Minyak Rusia
Pada bulan Januari, satu barel minyak mentah campuran Ural andalan Rusia berharga rata-rata USD60 per barel, tetapi harganya kemudian berangsur naik dengan mantap, hingga mencapai USD84 pada bulan April. Selanjutnya di bulan Juli, minyak mentah Rusia diperdagangkan sekitar USD80 per barel.
Peningkatan ini terjadi, meskipun ada rentetan sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia oleh AS, Uni Eropa, dan sekutu mereka sejak ketegangan antara Moskow dan Kiev meningkat menjadi operasi militer di Ukraina pada tahun 2022.
Pembatasan tersebut termasuk embargo minyak Rusia yang diangkut melalui laut, bersama dengan pembatasan harga USD60 per barel untuk jenis minyak mentah lainnya.
Negara-negara Uni Eropa sejauh ini dinilai gagal memberikan sanksi kepada gas alam Rusia, meski mulai menghindarinya. Sebagai tanggapan, Moskow mengalihkan pasokan energinya ke Asia, terutama ke India dan China, untuk mengkompensasi hilangnya beberapa pelanggan asal Barat.
Pada bulan Januari, satu barel minyak mentah campuran Ural andalan Rusia berharga rata-rata USD60 per barel, tetapi harganya kemudian berangsur naik dengan mantap, hingga mencapai USD84 pada bulan April. Selanjutnya di bulan Juli, minyak mentah Rusia diperdagangkan sekitar USD80 per barel.
Peningkatan ini terjadi, meskipun ada rentetan sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia oleh AS, Uni Eropa, dan sekutu mereka sejak ketegangan antara Moskow dan Kiev meningkat menjadi operasi militer di Ukraina pada tahun 2022.
Pembatasan tersebut termasuk embargo minyak Rusia yang diangkut melalui laut, bersama dengan pembatasan harga USD60 per barel untuk jenis minyak mentah lainnya.
Negara-negara Uni Eropa sejauh ini dinilai gagal memberikan sanksi kepada gas alam Rusia, meski mulai menghindarinya. Sebagai tanggapan, Moskow mengalihkan pasokan energinya ke Asia, terutama ke India dan China, untuk mengkompensasi hilangnya beberapa pelanggan asal Barat.
Lihat Juga :