Setiap Hari Ribut Soal Khilafah dan PKI, Ternyata yang Paling Ditakuti Justru Krisis Ekonomi

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 14:22 WIB
loading...
Setiap Hari Ribut Soal...
Foto/ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Krisis ekonomi masih menjadi ancaman masyarakat Indonesia setelah 75 tahun merdeka. Tak pelak, kabar hoaks tentang krisis ekonomi seperti 1997/1998 lampau mudah merebak di masyarakat. Hal itu terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Media Survei Nasional (Median).

Peneliti Median Rico Marbun mengatakan, survei tersebut dilakukan di 17 kota utama Indonesia. Masyarakat pun menyebutkan apa saja yang menjadi ancaman setelah 75 tahun Indonesia merdeka. ( Baca juga: Pemerintah Incar Duit Kaum Milenial Lewat Surat Utang Syariah )

"Ternyata, sebagian besar menjawab bukan ancaman militer, namun ancaman non-militer, yaitu krisis ekonomi. Krisis tersebut menempati urutan nomor satu, yaitu 13,4%," kata Rico di Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Menurutnya, krisis ekonomi menjadi ancaman pertama akibat pandemi Covid-19 saat ini. Pasalnya, dampak pandemi tidak sekedar soal isu kesehatan, namun turut berdampak ke sisi ekonomi.

"Setidaknya terdapat tujuh ancaman setelah ekonomi, yang kedua adalah ancaman demokrasi dan hukum, ketiga ancaman idiologi, keempat kualitas SDM, kelima, terhadap persatuan, keenam kekerasan bersenjata, ketujuh ancaman alam," terangnya.

Survei lainnya adalah harapan terbesar masyarakat Indonesia setelah 75 tahun merdeka adalah terciptanya masyarakat yang sejahtera. Porsi harapan tersebut mencapai 15,9%.
Berikutnya masyarakat berharap Indonesia lebih maju dari negara lain dengan porsi 13,8%. Kemudian terbukanya lapangan kerja sebesar 8,2 %, ekonomi bisa tumbuh pesat 7,8%, serta harapan pandemi covid-19 bisa berakhir sebesar 7,3%.

Setelah ekonomi, dia menambahkan publik masih melihat komunisme sebagai ancaman. Walau angkanya relatif jauh dari ancaman ekonomi, namun komunisme masih menduduki urutan kedua dari segi ancaman.

"Walaupun komunisme sudah dilarang, namun masih ada 5,2% publik yang menyatakan komunisme sebagai lima besar ancaman setelah ekonomi," katanya. ( Baca juga: Menkeu Sebut Orang Kaya Sudah Jarang Pergi ke Bioskop dan Warung )

Berikutnya dia menjelaskan metode survei dilakukan melalui telpon dilakukan pada 16-21 Agustus 202. Sebanyak 466 responden berusia minimal 17 tahun berbasis rumah tangga dipilih secara acak bertingkat di 17 kota besar di Indonesia. Kota tersebut adalah Banda Aceh, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Pontianak, Samarinda, Makassar, Manado, Ambon dan Jayapura.

Jumlah responden yang dipilih dilakukan dengan proporsional di setiap kota. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error +/- 4,5%.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Dorong Media CCTV Masuk ke Bisnis E-commerce
Mitigasi Krisis
Mitigasi Krisis
Survei Nasional: 83,7...
Survei Nasional: 83,7 Persen Publik Puas Kinerja Pertamina
Rekomendasi
Haji Bolot Sempat Tolak...
Haji Bolot Sempat Tolak Pakai Kursi Roda Meski Alami Sesak Napas Hebat
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan...
KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Bos Maktour Fuad Hasan Pekan Depan
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Berita Terkini
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Kurs Dolar AS Kini di Rp17.860
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Penjelasan PLN soal...
Penjelasan PLN soal Blackout di Beberapa Wilayah Pulau Jawa
Emas Antam Kembali Berkilau,...
Emas Antam Kembali Berkilau, Hari Ini Naik Rp20 Ribu Sentuh Rp2.709.000 per Gram
Infografis
3 Rudal Israel yang...
3 Rudal Israel yang Paling Ditakuti Negara Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved