Optimalisasi Gas Bumi Jadi Kunci Efisiensi Energi Pemerintahan Baru
Kamis, 17 Oktober 2024 - 12:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Optimalisasi Pasokan, Industri Pengguna Gas Bumi Usul Program HGBT Dihapuskan
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya pengembangan jaringan gas bumi untuk rumah tangga atau Jargas. Menurut Bahlil, upaya tersebut perlu dilakukan agar Indonesia tidak ketergantungan impor.
"Kita bikin Jargas. Jargas ini harus kita buat. Kalau tidak nanti impor lagi, impor lagi, impor lagi, lama-lama mati dengan impor kita," tegasnya.
Tantangan utama masih minimnya penggunaan gas bumi terutama untuk rumah tangga, kata Bahlil karena infrastrukturnya belum dibangun. Negara harus terlibat dalam upaya ini karena membutuhkan biaya investasi yang tidak sedikit.
"Karena pipanya nggak dibangun. Saya sudah minta kepada Menteri Keuangan kemarin, pipa-pipa ini kita harus bangun sebagai jalan tol gas bumi," ujarnya.
Terkait LPG, Bahlil menjelaskan, kebutuhannya saat ini mencapai 8 juta ton per tahun. Sementara produksi di dalam negeri hanya 1,7 ton per tahun. Maka mayoritas LPG bersumber dari impor. Untuk itu optimalisasi gas bumi perlu segera diwujudkan sebagai solusi.
Terlebih, peningkatan infrastruktur gas bumi ini sejalan dengan poin kedua dari Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran yaitu swasembada energi dan ekonomi hijau. Pada upaya swasembada energi, terdapat sejumlah poin penting seperti pembangunan infrastruktur terminal penerima gas dan jaringan transmisi/distribusi gas, serta memperluas konversi BBM kepada gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Optimalisasi gas bumi ini juga merupakan bagian dari langkah menuju Visi Emas Indonesia 2045.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya pengembangan jaringan gas bumi untuk rumah tangga atau Jargas. Menurut Bahlil, upaya tersebut perlu dilakukan agar Indonesia tidak ketergantungan impor.
"Kita bikin Jargas. Jargas ini harus kita buat. Kalau tidak nanti impor lagi, impor lagi, impor lagi, lama-lama mati dengan impor kita," tegasnya.
Tantangan utama masih minimnya penggunaan gas bumi terutama untuk rumah tangga, kata Bahlil karena infrastrukturnya belum dibangun. Negara harus terlibat dalam upaya ini karena membutuhkan biaya investasi yang tidak sedikit.
"Karena pipanya nggak dibangun. Saya sudah minta kepada Menteri Keuangan kemarin, pipa-pipa ini kita harus bangun sebagai jalan tol gas bumi," ujarnya.
Terkait LPG, Bahlil menjelaskan, kebutuhannya saat ini mencapai 8 juta ton per tahun. Sementara produksi di dalam negeri hanya 1,7 ton per tahun. Maka mayoritas LPG bersumber dari impor. Untuk itu optimalisasi gas bumi perlu segera diwujudkan sebagai solusi.
Terlebih, peningkatan infrastruktur gas bumi ini sejalan dengan poin kedua dari Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran yaitu swasembada energi dan ekonomi hijau. Pada upaya swasembada energi, terdapat sejumlah poin penting seperti pembangunan infrastruktur terminal penerima gas dan jaringan transmisi/distribusi gas, serta memperluas konversi BBM kepada gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Optimalisasi gas bumi ini juga merupakan bagian dari langkah menuju Visi Emas Indonesia 2045.
(nng)
Lihat Juga :