Minyak Rusia Tercekik Sanksi Barat, Ekonomi Global Terancam

Kamis, 31 Oktober 2024 - 14:30 WIB
loading...
Minyak Rusia Tercekik...
Upaya memperketat sanksi Barat terhadap minyak Rusia disebut dapat merusak ekonomi global. Foto/Dok Sputnik
A A A
MOSKOW - Upaya memperketat sanksi barat terhadap minyak Rusia disebut dapat merusak ekonomi global . Dalam laporan yang dirilis surat kabar Prancis Le Monde menunjukkan, bahwa pengetatan sanksi terhadap salah satu negara penghasil minyak utama dapat membuat harga pupuk melonjak.

Lalu pada akhirnya akan menyebabkan harga pangan global yang lebih tinggi. Lonjakan harga pangan global tentunya bakal berdampak terhadap banyak negara, khususnya negara-negara miskin.

Baca Juga: Gabung BRICS, Indonesia Bisa Beli Minyak Murah Rusia

"Kenaikan harga minyak secara tidak proporsional akan mempengaruhi negara-negara termiskin, berpotensi mendorong mereka ke dalam krisis kemanusiaan," kata ekonom AS, Catherine Wolfram.

Skenario tersebut dapat mendiskreditkan Barat di mata Global South dan mendorong mereka untuk memperkuat hubungan dengan Rusia.

Sementara itu CEO ClearView Energy Partners yang berbasis di AS, Kevin Book mengatakan, kepada Le Monde bahwa sanksi Barat hanya bisa bekerja penuh ketika mayoritas perusahaan asuransi transportasi minyak berlokasi di Barat. "Namun ini tidak terjadi hari ini," tegasnya.

Pemerintah Barat telah memukul Rusia dengan rentetan sanksi atas konflik Ukraina. Di antara beragam sanksi Barat, mereka menerapkan pembatasan harga minyak Rusia bersamaan dengan embargo minyak Moskow via laut dalam upaya untuk menekan perekonomian.

Pada saat yang sama, Barat ingin menjaga minyak mentah Rusia tetap mengalir ke pasar global agar tidak memicu kenaikan harga. Langkah-langkah tersebut diberlakukan pada Desember 2022, dan diikuti pada Februari 2023 oleh pembatasan serupa pada ekspor produk minyak bumi Rusia.

Ada larangan perusahaan Barat menyediakan asuransi dan layanan lain untuk pengiriman minyak mentah Rusia, kecuali kargo dibeli pada atau di bawah harga USD60 per barel, di bawah harga pasar saat ini.

Sebagai respons dari sanksi itu, Moskow melarang perusahaan Rusia mematuhi pembatasan harga dan mengalihkan sebagian besar ekspor energinya ke Asia, terutama India dan China.

Dibandingkan memilih kebijakan dengan efek jangka panjang, seperti larangan ekspor suku cadang yang menghambat pemeliharaan peralatan militer, yang terjadi sebaliknya justru menyasar minyak," tulis Le Monde. Ia menunjukkan, bahwa Moskow telah berhasil menghindari pembatasan sementara harga minyak mentah Ural andalan negara itu sebagian besar tetap di atas batas harga Barat.

Perhitungan Reuters berdasarkan data pedagang menunjukkan, bahwa harga minyak mentah Ural di Oktober diperdagangkan di atas USD65 per barel pada pelabuhan Baltik Rusia dan Laut Hitam. Pada bulan Juli, minyak mentah Rusia diperdagangkan sekitar USD80 per barel.

Baca Juga: Sanksi Minyak Rusia seperti Macan Ompong, 37 Perusaahan Dicurigai Melanggar

Menurut laporan baru-baru ini oleh lembaga independen think tank seperti Institute for Energy and Finance Foundation (FIEF), pendapatan energi Rusia dapat mencapai level rekor tahun ini, didukung oleh harga minyak ekspor yang tinggi.

Pendapatan dari ekspor minyak melonjak 63% pada Januari-Juli 2024 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023, dengan total 6,4 triliun rubel (USD66 miliar), kata surat kabar itu.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Rekomendasi
Drama Injury Time! Qatar...
Drama Injury Time! Qatar Gagalkan Kemenangan Swiss
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
Berita Terkini
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
Komitmen Perbaikan Tata...
Komitmen Perbaikan Tata Kelola Pengadaan Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar FGD
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Infografis
Rusia: Ukraina Jadi...
Rusia: Ukraina Jadi Tambang Emas bagi Produsen Senjata Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved