Di COP 29, PGE: Panas Bumi Katalisator Utama Transisi Energi
Kamis, 14 November 2024 - 13:51 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Tantang Dominasi Barat, China Kenalkan Jet Tempur Generasi ke-6 'Kaisar Putih'
Percepatan pengembangan panas bumi, kata Julfi, akan membuat Indonesia berpotensi menjadi raksasa energi hijau dunia. Ini selaras dengan peta jalan EBT nasional yang menargetkan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 10,5 GW pada 2035. Target ini diharapkan menarik investasi sebesar USD17-18 miliar, berkontribusi hingga USD22 miliar pada PDB, serta menciptakan hingga 1 juta lapangan kerja.
Untuk mendukung visi tersebut, lanjut Julfi, PGE terus berkomitmen meningkatkan kapasitas terpasang hingga 1,5 GW pada 2030 melalui implementasi paradigma baru pengembangan panas bumi yang lebih efisien dan inovatif. Sementara pendekatan yang dilakukan PGE adalah pengembangan secara bertahap untuk meminimalisasi risiko; penerapan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi; kolaborasi untuk meningkatkan volume dan konsolidasi pasar; pengembangan bisnis hijau baru, seperti hidrogen hijau dan amonia hijau; dan promosi lokalisasi teknologi dengan mendorong manufaktur lokal komponen utama pembangkit panas bumi.
"Potensi energi baru dan terbarukan terutama panas bumi adalah kekuatan besar yang tidak hanya mendukung Indonesia memperkuat komitmen iklim dan mencapai target nol emisi pada 2060, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan swasembada energi nasional," tutup Julfi Hadi.
Percepatan pengembangan panas bumi, kata Julfi, akan membuat Indonesia berpotensi menjadi raksasa energi hijau dunia. Ini selaras dengan peta jalan EBT nasional yang menargetkan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 10,5 GW pada 2035. Target ini diharapkan menarik investasi sebesar USD17-18 miliar, berkontribusi hingga USD22 miliar pada PDB, serta menciptakan hingga 1 juta lapangan kerja.
Untuk mendukung visi tersebut, lanjut Julfi, PGE terus berkomitmen meningkatkan kapasitas terpasang hingga 1,5 GW pada 2030 melalui implementasi paradigma baru pengembangan panas bumi yang lebih efisien dan inovatif. Sementara pendekatan yang dilakukan PGE adalah pengembangan secara bertahap untuk meminimalisasi risiko; penerapan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi; kolaborasi untuk meningkatkan volume dan konsolidasi pasar; pengembangan bisnis hijau baru, seperti hidrogen hijau dan amonia hijau; dan promosi lokalisasi teknologi dengan mendorong manufaktur lokal komponen utama pembangkit panas bumi.
"Potensi energi baru dan terbarukan terutama panas bumi adalah kekuatan besar yang tidak hanya mendukung Indonesia memperkuat komitmen iklim dan mencapai target nol emisi pada 2060, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan swasembada energi nasional," tutup Julfi Hadi.
(fjo)
Lihat Juga :