alexametrics

Jumlah Penumpang Angkutan Umum Natal dan Tahun Baru Turun 2%

loading...
Jumlah Penumpang Angkutan Umum Natal dan Tahun Baru Turun 2%
Kemenhub mengatakan jumlah penumpang angkutan umum periode Natal dan Tahun Baru 2020 turun 2%.
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat jumlah penumpang angkutan umum selama masa angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru) mencapai 17 juta orang. Jumlah tersebut menurun 2% dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu.

"Data penumpang angkutan umum pada Nataru 2020 dari 19 Desember 2019-5 Januari 2020 sebanyak 17,059 juta penumpang. Jumlah tersebut mengalami penurunan 2%," ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Hengki Angkasawan di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Hengki melanjutkan, penumpang umum angkutan jalan Nataru 2020 mengalami penurunan 20% menjadi 2,5 juta penumpang. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah penumpang moda angkutan jalan mencapai 3,3 juta penumpang.



Selanjutnya, volume penumpang angkutan udara Nataru 2020 sebanyak 5,1 juta penumpang. Angka tersebut mengalami penurunan 6,5% dari periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 5,4 juta penumpang.

Adapun volume penumpang angkutan penyeberangan mengalami kenaikan pada angkutan Nataru 2020 sebesar 18%, yakni dari 2,1 juta menjadi 2,5 juta penumpang. Jumlah penumpang angkutan laut Nataru 2020 naik 13,5% menjadi 1,1 juta penumpang. Lalu, jumlah penumpang angkutan kereta api (KA) Nataru kali ini sebanyak 5,7 juta penumpang atau naik 4,4%.

Di sisi lain, ungkap Hengki, berdasarkan data PT Jasa Marga (Persero) Tbk, jumlah kendaraan di jalan tol pada masa angkutan Nataru 2020 mencapai 5,5 juta kendaraan atau mengalami kenaikan 17,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,7 juta kendaraan.

Dia menambahkan, tol Layang Jakarta-Cikampek juga sudah dibuka selama masa angkutan Nataru 2020. Pada 21 Desember 2019, banyak kendaraan yang melalui ruas tol tersebut. Namun, akibat hal tersebut terjadi kemacetan pada pertemuan antara lalu lintas jalan tol layang dan Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang sudah ada sebelumnya di KM 48.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menjelaskan, jumlah penumpang angkutan jalan, khususnya bus, pada masa Nataru 2020 mengalami penurunan diperkirakan karena banyak yang menggunakan kendaraan pribadi.

Kenaikan jumlah kendaraan pribadi juga berdampak pada meningkatnya penggunaan moda angkutan penyeberangan antarpulau. Budi menuturkan, bertambahnya antusiasme masyarakat menggunakan kendaraan pribadi salah satunya disebabkan semakin tersambungnya jalan tol baik di wilayah Jawa maupun Sumatra.

Direktur Prasarana Transportasi Jalan Kemenhub Mohamad Risal Wasal mengungkapkan, jumlah kendaraan meningkat pada Nataru 2020 bukan hanya berasal dari kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan sewa.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Nur Isnin Istiartono mengungkapkan, semakin tersambungnya konektivitas jalan tol juga berpengaruh terhadap volume penumpang pesawat Nataru 2020 yang mengalami penurunan.

"Tapi sebelumnya prediksi kami itu jumlah penumpang angkutan udara Nataru 2020 turun hingga 8,4%. Namun, Alhamdulillah, karena kepercayaan publik hanya turun 6,5%," terang Nur Isnin.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menambahkan, dari data Kepolisian selama 19 Desember 2019-5 Januari 2020, angka kecelakaan lalu lintas meningkat 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun angka korban meninggal dunia meningkat 16,1%.

Budi melanjutkan, salah satu catatan kecelakaan yang terjadi pada masa angkutan Nataru 2020 adalah kecelakaan bus di Pagar Alam, Sumatra Selatan yang menewaskan 35 korban jiwa pada 24 Desember 2019.

"Pak Menteri Perhubungan sudah menginstruksikan kepada kami untuk melakukan perbaikan full effort agar kejadian serupa tak terjadi lagi. Di situ akan dikaji lebih dalam untuk kondisi Infrastrukturnya dan memastikan keselamatan bus," terang Budi Setiyadi.

Budi menegaskan, atas kecelakaan itu, pihak operator bus dikenai sanksi administratif oleh Kemenhub berupa pelarangan operasi sementara waktu.

"Hari Rabu (8/1) kami akan rapat dengan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk membuat perbaikan-perbaikan jangka panjang," kata Budi Setiyadi.

Atasi Banjir Tol Japek
Sementara itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub telah mengatasi banjir di Tol Jakarta-Cikampek beberapa waktu lalu. Menurut Dirjen Budi, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian termasuk Kementerian PUPR bersama operator Jasa Marga.

Dia menjelaskan bahwa terdapat saluran air sekitar tol yang tersumbat karena aktivitas pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Ada penutupan untuk jalan kerja. Makanya yang tadinya gorong gorong, tadinya ada 3 saluran air di situ itu terhambat karena dibantara paritnya ditutup pakai beton," kata Budi Setiyadi.

Dia menegaskan bahwa banjir di Tol Japek baru kali ini terjadi. Sebelumnya, dia mengaku Tol Japek tak pernah digenangi air hingga waktu yang cukup lama.

"Tadinya saluran air bagus kemudian tutup untuk alat berat, itu dampaknya," tandasnya.

Dia menyebut, sejumlah lokasi terdampak banjir yang paling parah di antaranya ada di KM 19 dan KM 24. Kini, saluran air tertutup yang jadi biang kerok banjir tersebut sudah dibuka kembali.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak