China Merespons Ancaman Donald Trump ke BRICS Jika Tinggalkan Dolar AS

Rabu, 04 Desember 2024 - 20:39 WIB
loading...
China Merespons Ancaman...
China merespons ancaman Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada negara-negara BRICS jika mereka meninggalkan dolar Amerika dan beralih ke mata uang lain. Foto/Dok
A A A
BEIJING - Ancaman Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada negara-negara BRICS jika mereka meninggalkan dolar Amerika dan beralih ke mata uang lain, mendapatkan respons dari China. Ditekankan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian bahwa, China bakal terus memperluas kerja sama dengan sesama anggota BRICS meskipun ada ancaman tarif dari Donald Trump.

Seperti diketahui Trump baru-baru ini memperingatkan, bahwa negara-negara BRICS akan terkena tarif 100% pada barang-barang mereka jika menciptakan mata uang baru atau mendukung mata uang yang sudah ada sebagai saingan dolar AS .

Baca Juga: Donald Trump Ancam BRICS Jika Tinggalkan Dolar AS

BRICS dikenal sebagai pesaing Barat sejak awal berdirinya, dimana beranggotakan awal Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Selanjutnya pada awal tahun ini, BRICS memperluas anggota mereka dengan menerima member baru mencakup Mesir, Iran, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.

Sementara sekitar 30 negara lainnya telah menyatakan minat untuk bergabung bersama BRICS - kelompok ekonomi negara-negara berkembang terdepan tersebut.

Kelompok BRICS merupakan platform penting untuk kerja sama di antara pasar negara berkembang, dan tujuannya adalah untuk mencapai pembangunan dan kemakmuran yang komprehensif, bukan untuk terlibat dalam "konfrontasi blok" atau "menargetkan pihak ketiga mana pun," kata Jian pada sebuah briefing pada hari Selasa.

"China siap terus bekerja dengan mitra BRICS untuk memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang dan memberikan kontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dunia yang berkelanjutan dan stabil," kata diplomat itu.

Sebelumnya dalam sebuah postingan di platform Truth Social-nya pada hari Sabtu, Trump mengatakan dia akan meminta negara-negara BRICS berjanji agar tidak menciptakan mata uang bersama, "atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar AS yang perkasa," atau mereka akan menghadapi tarif 100% atas produk-produk mereka yang diimpor ke Amerika.

Trump telah berjanji untuk menggunakan tarif untuk menyelesaikan defisit perdagangan AS, memaksa produsen lepas pantai untuk kembali, dan mencapai berbagai tujuan geopolitik.

Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, pada Juni 2022 bahwa anggota blok tersebut sedang mencari kemungkinan menciptakan mata uang cadangan internasional. Pernyataan itu muncul tak lama setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terkait Ukraina terhadap Moskow yang secara efektif menendangnya dari sistem keuangan berdenominasi dolar.

Dukungan terhadap rencana BRICS menciptakan mata uang baru untuk perdagangan mendapat dukungan dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva yang disampaikan pada tahun 2023, lalu. Menurutnya hal lumrah bagi BRICS untuk membuat mata uang baru, "seperti halnya orang Eropa menciptakan euro."

Baca Juga: Pentingnya Dedolarisasi Tetap Jadi Prioritas Utama BRICS

Namun pada bulan lalu, Putin mengaku terlalu dini untuk berbicara tentang mata uang BRICS karena ekonomi anggota membutuhkan pengembangan dan integrasi terlebih dahulu. Menanggapi ancaman Trump, Afrika Selatan juga membantah pada hari Minggu bahwa blok itu berencana untuk menciptakan mata uang baru.

Sebaliknya, negara-negara BRICS telah berjanji untuk menyiapkan sistem pembayaran lintas batas yang fungsinya bakal menggantikan jaringan SWIFT Barat dan meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Rekomendasi
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
UNJ Gelar Pesta Rakyat...
UNJ Gelar Pesta Rakyat 2026, Perkuat Semangat Kampus Berdampak dan Bereputasi Global
Pramono Dampingi Megawati...
Pramono Dampingi Megawati Hadiri Bung Karno Festival di Taman Proklamasi
Berita Terkini
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Terungkap 2 Alasan di...
Terungkap 2 Alasan di Balik Pemadaman Bergilir Pulau Jawa, Dirut PLN Minta Maaf
Jangan Sampai Lolos!...
Jangan Sampai Lolos! BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Promo Gila-gilaan dari Rumah, Mobil, sampai Tiket Liburan
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved