3 Alasan Kelas Menengah Indonesia Rentan Jatuh Miskin

Selasa, 31 Desember 2024 - 14:43 WIB
loading...
3 Alasan Kelas Menengah...
Karyawan saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kelas menengah Indonesia menghadapi ancaman besar untuk jatuh ke dalam kemiskinan. Berdasarkan data terbaru dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah Bank Mandiri, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus menurun.

Pada 2024, tercatat hanya 47,85 juta jiwa, menurun signifikan dibandingkan dengan 57,33 juta jiwa pada 2019. Selain itu, jumlah masyarakat kelas menengah rentan meningkat menunjukkan betapa rapuhnya posisi kelas menengah di tengah ketidakpastian ekonomi.

Berikut 3 alasan utama mengapa kelas menengah Indonesia rentan jatuh miskin


1. Daya Beli Rendah



Salah satu alasan utama adalah penurunan jumlah kelas menengah yang cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Proporsi kelas menengah dalam struktur penduduk Indonesia pada 2023 tercatat hanya 17,44 persen, turun jauh dari 21,45 persen pada 2019. Penurunan ini menunjukkan bahwa banyak warga yang sebelumnya berada di kelas menengah, kini terpaksa jatuh ke dalam kategori kelas menengah rentan atau bahkan miskin. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Baca Juga: Rawan Miskin, Segini Penghasilan Rata-rata Kelas Menengah Indonesia

2. Pengeluaran Tinggi tapi Pendapatan Rendah



Alasan kedua adalah meningkatnya pengeluaran kelas menengah yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan yang signifikan. Rata-rata pengeluaran per kapita kelas menengah Indonesia pada 2024 tercatat sekitar Rp 3,35 juta per bulan, meningkat 142 persen dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya sebesar Rp 2,36 juta. Namun, meskipun pengeluaran meningkat, penghasilan yang diterima tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi.

Pada 2021, rata-rata sisa gaji kelas menengah Indonesia hanya sekitar Rp 435.888 per bulan, jauh lebih kecil dibandingkan dengan kelas atas yang memiliki sisa gaji rata-rata Rp1,59 juta per bulan.

3. Kesenjangan Ekonomi



Kesenjangan antara kelas menengah dan kelas atas juga semakin mencolok. Kelas menengah yang berada di ambang kemiskinan mengalami kesulitan besar untuk menabung atau berinvestasi, yang semakin membatasi peluang mereka untuk memperbaiki kondisi keuangan. Sebagian besar warga kelas menengah hanya bisa bertahan hidup dengan pengeluaran yang pas-pasan, tanpa memiliki cadangan atau investasi untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

Baca Juga: 5 Cara Memulai Hidup Slow Living, Bikin Hidup Bahagia

Kondisi ini memperburuk ketimpangan ekonomi yang ada, dengan sebagian kecil masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih untuk naik ke kelas atas.Dengan adanya penurunan jumlah kelas menengah, peningkatan pengeluaran yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan, dan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, kelas menengah Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan.

Pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi kelas menengah, seperti mempertahankan subsidi, menunda kenaikan pajak, serta meningkatkan literasi keuangan dan investasi di kalangan masyarakat. Tanpa langkah tersebut, ancaman menguras tabungan hingga turun kelas dan ketidakstabilan ekonomi dapat semakin mengancam stabilitas sosial dan ekonomi Indonesia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Yenny Wahid: Dukungan...
Yenny Wahid: Dukungan Prabowo untuk Pelatnas Jangka Panjang Jadi Investasi Masa Depan Olahraga
PDIP: Jika Seluruh Fraksi...
PDIP: Jika Seluruh Fraksi di DPR Hanya Manut Eksekutif, Apa Bedanya dengan Era Orde Baru?
Berita Terkini
BPDP dan AKPY Latih...
BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Infografis
23 Pemain Timnas Indonesia...
23 Pemain Timnas Indonesia U-17 Proyeksi Piala Asia U17 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved