Dunia Banjir Barang-barang China, Surplus Perdagangan Tiongkok Nyaris Tembus USD1 Triliun

Rabu, 15 Januari 2025 - 07:42 WIB
loading...
A A A
Meskipun China mengalami defisit minyak dan sumber daya alam lainnya, surplus perdagangannya dalam barang-barang manufaktur mewakili 10% dari ekonomi China. Sebagai perbandingan, ketergantungan AS pada surplus perdagangan barang-barang manufaktur mencapai puncak sebesar 6 persen dari output Amerika pada awal Perang Dunia I, ketika pabrik-pabrik di Eropa sebagian besar berhenti mengekspor dan beralih ke produksi masa perang.

Banyak negara mencari surplus perdagangan dalam barang-barang manufaktur karena pabrik-pabrik menciptakan lapangan kerja dan penting untuk keamanan nasional. Surplus perdagangan adalah jumlah ekspor yang melebihi impor.

Ekspor China untuk segala hal, mulai dari mobil hingga panel surya, telah menjadi bonanza ekonomi bagi negara ini. Ekspor telah menciptakan jutaan lapangan kerja, tidak hanya untuk pekerja pabrik, yang upahnya telah disesuaikan dengan inflasi dan naik sekitar dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, tetapi juga untuk insinyur, desainer, dan ilmuwan riset yang berpenghasilan tinggi.

Pada saat yang sama, impor barang-barang pabrik di China mengalami perlembatan. Negara ini mengejar kemandirian nasional selama dua dekade terakhir, terutama melalui kebijakan Made in China 2025, di mana Beijing menjanjikan USD300 miliar untuk mempromosikan manufaktur maju.

China telah berubah dari pengimpor mobil menjadi eksportir mobil terbesar di dunia, melampaui Jepang, Korea Selatan, Meksiko, dan Jerman. Sebuah perusahaan milik negara Cina telah mulai membuat pesawat jet komersial lorong tunggal, dalam upaya untuk menggantikan pesawat jet Airbus dan Boeing suatu hari nanti. Perusahaan-perusahaan Cina memproduksi hampir semua panel surya di dunia.

Ekspor China meningkat pesat karena ekonomi domestiknya sedang menderita. Surplus perdagangan telah mengimbangi beberapa kerugian dari kejatuhan pasar perumahan yang telah melukai bisnis dan konsumen.

Jutaan pekerja konstruksi telah kehilangan pekerjaan mereka, sementara kelas menengah China telah kehilangan banyak tabungannya. Hal ini menyebabkan banyak keluarga enggan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli barang dan jasa impor maupun domestik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan Harga Obat, BPOM Permudah Perizinan Bahan Baku Impor
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Kuwait Tawarkan Minyak...
Kuwait Tawarkan Minyak ke Pembeli Asia, Pertama Kalinya Sejak Konflik Iran
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
Rekomendasi
Nabung Emas di BRImo...
Nabung Emas di BRImo Kini Otomatis Lewat Fitur Toggle, Modal Mulai Rp10 Ribu!
Bukan Hanya Umur, Pakar...
Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
Sahroni Apresiasi Polisi...
Sahroni Apresiasi Polisi Ringkus Pelaku Penculikan Lansia di PIK: Tangkap Apa Pun Motifnya!
Berita Terkini
Bahlil Antisipasi Ledakan...
Bahlil Antisipasi Ledakan Subsidi Energi Tahun Depan, Segini Hitungannya dalam RAPBN 2027
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Jaring Talenta Pelaut Muda Perkuat Distribusi Energi Nasional
Bahlil Jamin Harga BBM...
Bahlil Jamin Harga BBM Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik
MNC Sekuritas Perluas...
MNC Sekuritas Perluas Jangkauan Literasi ke Kendari melalui Edukasi Cerdas Investasi Digital
IHSG Hari Ini Berakhir...
IHSG Hari Ini Berakhir Meroket 4,12% Tembus Level 6.254
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved