Tanpa Gas dan Minyak Rusia, Harga Energi di Uni Eropa Jadi Selangit
Jum'at, 24 Januari 2025 - 07:27 WIB
loading...
Harga energi di seluruh Uni Eropa (UE) meroket naik karena gangguan pasokan gas dan minyak murah dari Rusia. Harga energi selangit di Benua Biru diakui oleh Kepala Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Foto/Dok
A
A
A
DAVOS - Harga energi di seluruh Uni Eropa (UE) meroket naik karena gangguan pasokan minyak dan gas murah Rusia . Harga energi selangit di Benua Biru diakui oleh Kepala Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.
Berbicara pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, von der Leyen mengatakan, bahwa sebelum 2022, Uni Eropa menerima 45% pasokan gasnya dan 50% pasokan batu bara dari Rusia. Selain itu Moskow juga menjadi salah satu pemasok minyak terbesar blok tersebut.
"Energi ini tampak murah, tetapi membuat kami terpapar pemerasan," katanya.
Baca Juga: Gas Rusia Diam-diam Masih Ada di Uni Eropa, 837.300 Metrik Ton Mengalir di Awal 2025
Sambung Von der Leyen mengklaim bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin 'memotong pasokan gasnya' setelah konflik di Ukraina meletus pada Februari 2022.
"Impor gas kami dari Rusia turun sekitar 75%. Dan sekarang kami mengimpor dari Rusia hanya 3% dari minyak kami, dan tidak ada batu bara sama sekali," katanya.
Pada saat yang sama, von der Leyen mengakui bahwa hilangnya pasokan Rusia memperburuk krisis energi . "Kebebasan datang dengan harga. Rumah tangga dan bisnis melihat biaya energi yang sangat tinggi dan tagihan bagi banyak orang belum turun," katanya.
Berbicara pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, von der Leyen mengatakan, bahwa sebelum 2022, Uni Eropa menerima 45% pasokan gasnya dan 50% pasokan batu bara dari Rusia. Selain itu Moskow juga menjadi salah satu pemasok minyak terbesar blok tersebut.
"Energi ini tampak murah, tetapi membuat kami terpapar pemerasan," katanya.
Baca Juga: Gas Rusia Diam-diam Masih Ada di Uni Eropa, 837.300 Metrik Ton Mengalir di Awal 2025
Sambung Von der Leyen mengklaim bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin 'memotong pasokan gasnya' setelah konflik di Ukraina meletus pada Februari 2022.
"Impor gas kami dari Rusia turun sekitar 75%. Dan sekarang kami mengimpor dari Rusia hanya 3% dari minyak kami, dan tidak ada batu bara sama sekali," katanya.
Pada saat yang sama, von der Leyen mengakui bahwa hilangnya pasokan Rusia memperburuk krisis energi . "Kebebasan datang dengan harga. Rumah tangga dan bisnis melihat biaya energi yang sangat tinggi dan tagihan bagi banyak orang belum turun," katanya.
Lihat Juga :