Uni Eropa Mempertimbangkan Kembali Pakai Gas Rusia

Kamis, 30 Januari 2025 - 21:59 WIB
loading...
Uni Eropa Mempertimbangkan...
Pejabat Uni Eropa (UE) diklaim sedang membahas kemungkinan untuk melanjutkan impor gas Rusia sebagai bagian dari perjanjian perdamaian di Ukraina. Foto/Dok
A A A
BRUSELLS - Pejabat Uni Eropa (UE) diklaim sedang membahas kemungkinan untuk melanjutkan impor gas Rusia sebagai bagian dari perjanjian perdamaian di Ukraina. Seretnya pasokan gas Rusia ke UE telah menjadi perdebatan di antara negara-negara anggotanya.

Terutama setelah Brussels meningkatkan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada energi murah Rusia menyusul eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022. Pemulihan pengiriman gas Rusia melalui pipa dilaporkan dapat menjadi bagian dari kesepakatan damai Ukraina, seperti dilansir Financial Time.

Baca Juga: Jerman Disebut Genjot Impor LNG Rusia melalui Pelabuhan Uni Eropa

Pendukung proposal tersebut, termasuk di antaranya para pejabat dari Jerman dan Hongaria, dimana mereka berpendapat bahwa mengembalikan impor gas Rusia dapat menurunkan harga energi di Eropa. Selain itu bisa mendorong Moskow untuk terlibat dalam negosiasi, tulis FT, mengutip sumber mengetahui masalah ini.

Mereka menyakini bahwa langkah seperti ini akan memberikan insentif bagi pihak-pihak yang berkonflik untuk menegakkan gencatan senjata. "Ada tekanan dari beberapa negara besar dalam keanggotaan terkait harga energi dan ini adalah salah satu cara untuk menurunkannya, tentu saja," kata seorang pejabat kepada FT.

Namun, gagasan itu dilaporkan telah 'membuat marah' para pejabat di Brussels dan diplomat dari beberapa negara Eropa Timur, yang secara tradisional menjadi kritikus Rusia yang paling keras. Mereka khawatir tentang peningkatan pendapatan ekspor Moskow dan membalikkan upaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.

Sementara itu Moskow meragukan rencana tersebut bakal terwujud. "Uni Eropa tidak mungkin siap untuk memulai kembali pembelian gas Rusia dalam waktu dekat," ungkap Wakil Ketua Pertama Komite Energi Duma Negara, Igor Ananskikh mengatakan kepada Lenta.ru.

Rusia berulang kali menyatakan bahwa mereka siap untuk melanjutkan pasokan gas ke Eropa dan melayangkan kritik keras terhadap sanksi Barat dan UE. Kremlin menyatakan, bahwa sanksi tersebut menyebabkan lebih banyak kerusakan pada Uni Eropa daripada Moskow.

Uni Eropa diketahui menghadapi penurunan drastis terkait impor gas Rusia karena sanksi terkait Ukraina dan sabotase pipa Nord Stream pada tahun 2022, yang merupakan saluran utama gas Rusia ke UE. Ditambah per 1 Januari 2025, Ukraina menghentikan transit gas Rusia melalui wilayahnya setelah perjanjian dengan Moskow berakhir.

Sebelumnya gas Rusia menyumbang sekitar 40% dari total pasokan UE. Ketika UE meningkatkan impor gas alam cair (LNG) dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan Norwegia untuk menggantikan pasokan, yang terjadi justru menaikkan harga energi.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak Brussels untuk membeli lebih banyak LNG Amerika, dengan menebar ancaman tarif jika mereka tidak mematuhinya.

Baca Juga: 5 Negara dengan Harga Gas Alam Termahal di Dunia

Harga energi yang tinggi telah berdampak signifikan pada ekonomi UE. Penopang ekonomi blok itu, Jerman mengalami kontraksi ekonomi selama dua tahun berturut-turut menurut data resmi pada tahun 2024.

Slovakia, menjadi salah satu negara yang terkena dampak penghentian transit gas melalui Ukraina, dan menuduh Kiev membahayakan keamanan energinya. Perdana Menteri Robert Fico telah berjanji untuk memveto bantuan Uni Eropa ke Ukraina jika transit gas Rusia tidak dilanjutkan.

"Pada akhirnya, semua orang menginginkan biaya energi yang lebih rendah," kata seorang pejabat senior Uni Eropa kepada FT.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Ekonomi Rusia Menyusut...
Ekonomi Rusia Menyusut tapi Rakyatnya Makin Kaya, Moskow Kebal Sanksi Barat?
Rusia Tebar Diskon Gas...
Rusia Tebar Diskon Gas ke China Sampai 2029, Lebih Murah dari Eropa
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Rekomendasi
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved