Rupiah Masih Pesakitan usai Libur Panjang, Hari Ini Jatuh ke Rp16.304/USD
Jum'at, 31 Januari 2025 - 15:44 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 48,5 poin usai diterpa sentimen global dan domestik. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 48,5 poin atau 0,30% ke level Rp16.304 per dolar AS setelah sebelumnya juga terdepresiasi. Hal ini juga sejalan dengan sentimen global dan domestik.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh sentimen eksternal yaitu investor sedang mempertimbangkan kemungkinan tarif AS bersamaan dengan serangkaian perintah eksekutif dan pengumuman kebijakan, dimana Trump mengancam akan mengenakan tarif perdagangan 100% terhadap BRICS atas dedolarisasi.
Baca Juga: Trump Kobarkan Perang Dagang dengan China, Begini Kondisi Rupiah
"Trump mengancam akan mengenakan tarif perdagangan 100 persen pada kelompok negara BRICS atas upaya mereka untuk menciptakan mata uang mereka sendiri dan menjauh dari dolar," tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (31/1/2025).
Adapun Trump menuntut komitmen dari kelompok tersebut yang sebagian besar terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan bahwa mereka tidak akan meluncurkan usaha semacam itu.
Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% paling cepat Sabtu ini pada ekspor Kanada dan Meksiko ke Amerika Serikat jika kedua negara itu tidak menghentikan pengiriman fentanil melintasi perbatasan AS, membuat investor waspada terhadap perang dagang global yang baru. Ia juga diharapkan menyetujui tarif 10 persen pada China.
Sebuah studi oleh Pusat GeoEkonomi Dewan Atlantik tahun lalu menunjukkan bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia, dan baik euro maupun negara-negara yang disebut BRICS tidak mampu mengurangi ketergantungan global pada dolar.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh sentimen eksternal yaitu investor sedang mempertimbangkan kemungkinan tarif AS bersamaan dengan serangkaian perintah eksekutif dan pengumuman kebijakan, dimana Trump mengancam akan mengenakan tarif perdagangan 100% terhadap BRICS atas dedolarisasi.
Baca Juga: Trump Kobarkan Perang Dagang dengan China, Begini Kondisi Rupiah
"Trump mengancam akan mengenakan tarif perdagangan 100 persen pada kelompok negara BRICS atas upaya mereka untuk menciptakan mata uang mereka sendiri dan menjauh dari dolar," tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (31/1/2025).
Adapun Trump menuntut komitmen dari kelompok tersebut yang sebagian besar terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan bahwa mereka tidak akan meluncurkan usaha semacam itu.
Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% paling cepat Sabtu ini pada ekspor Kanada dan Meksiko ke Amerika Serikat jika kedua negara itu tidak menghentikan pengiriman fentanil melintasi perbatasan AS, membuat investor waspada terhadap perang dagang global yang baru. Ia juga diharapkan menyetujui tarif 10 persen pada China.
Sebuah studi oleh Pusat GeoEkonomi Dewan Atlantik tahun lalu menunjukkan bahwa dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia, dan baik euro maupun negara-negara yang disebut BRICS tidak mampu mengurangi ketergantungan global pada dolar.
Lihat Juga :