alexametrics

PLN Kembangkan Pelet Sampah untuk Campuran Bahan Bakar PLTU Jeranjang

loading...
PLN Kembangkan Pelet Sampah untuk Campuran Bahan Bakar PLTU Jeranjang
PLH Manager PLTU Jeranjang Nandang Safrudin menunjukkan pelet sampah untuk campuran batu bara yang diolah di TPA Kebon Kongok, Mataram, Lombok, Selasa (11/2/2020). Foto/M Faizal
A+ A-
MATARAM - PLN terus menegaskan komitmennya dalam perlindungan lingkungan dengan mendorong penggunaan olahan sampah menjadi pengganti bahan bakar pembangkitnya. Setelah sukses di Bali, kini PLN bersama anak usahanya mengembangkan penggunaan pelet sampah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang berkapasitas 3x25 Megawatt (MW) di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.

PLH Manager PLTU Jeranjang Nandang Safrudin menjelaskan, olahan sampah dalam bentuk pelet tersebut setara dengan batu bara kalori rendah yang digunakan untuk bahan bakan pembangkit.

"Kami sudah lakukan riset dan uji coba, khususnya untuk mengukur optimasi substitusi peletnya. Hasilnya antara 3-5%, namun memang paling optimal ada di 3%," ucap Nandang di Mataram, Lombok, Selasa (11/2/20200).



Nandang menjelaskan, jika menggunaan batu bara secara penuh, dalam satu jam kondisi maksimal, PLTU Jeranjang membutuhkan 20 ton batu bara sebagai bahan bakar. Dengan substitusi 3%, maka kebutuhan batu bara dapat digantikan pelet sebanyak 600 kilogram untuk setiap jam.

Untuk mendorong ketersediaan pelet guna kebutuhan PLTU Jeranjang, PLN saat ini telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok untuk mengubah sampah menjadi pelet.

"Tantangan kami memang menjaga ketersediaan pelet. Oleh karena itu kami bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan. Karena pelet untuk PLTU ini punya spesifikasi khusus," kata Nandang.

Melalui JOSS, sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok dikumpulkan dalam bak, lalu dimasukkan cairan bio activator untuk dilakukan proses peuyeumisasi, kemudian sampah dijemur hingga kering. Setelah itu, sampah dimasukkan ke mesin pencacah dan tahap akhir melalui proses peletisasi. Mesin-mesin yang digunakan merupakan bagian dari program CSR PLN.

Usai berbentuk pelet, kemudian produk dijemur hingga kering. Selanjutnya, pelet bisa digunakan untuk campuran bahan bakar pembangkit listrik.

Nandang menjelaskan, sasaran pemanfaatan olahan sampah ini tidak hanya bertujuan untuk menurunkan biaya produksi listrik, tetapi juga sebagai alternatif solusi penanganan sampah daerah dan upaya memberdayakan masyarakat.

"Dengan olahan ini sampah bisa bernilai, masyarakat juga bisa punya penghasilan tambahan. Jadi ekonomi masyarakat sekitar juga meningkat," ujar Nandang. Selain itu, pemanfaatan sampah menjadi energi ini juga menjadi alternatif solusi penanganan sampah di daerah.

Dody, pengelola TPA Kebon Kongok menyampaikan bahwa kehadiran pengolahan sampah sementara membantu mengurangi permasalahan sampah yang ada di Lombok. "Sampah ini masih jadi salah satu masalah untuk Lombok, padahal tempat kami ini menjadi destinasi wisata. Dengan program dari PLN ini tentunya dapat menjadi solusi dan mewujudkan Program Zero Waste yang diusung pemerintah Provinsi NTB," pungkas Dody.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak