alexametrics

Trend Properti 2020, Rumah Mungil Jadi Buruan Milenial

loading...
Trend Properti 2020, Rumah Mungil Jadi Buruan Milenial
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Sejumlah pihak menyatakan bahwa tahun 2020 akan menjadi awal kebangkitan pasar properti. Artinya, inilah saat yang tepat untuk membeli properti, baik untuk dihuni maupun sekadar berinvestasi.

Apakah ini juga berlaku bagi milenial yang disebut-sebut lebih memprioritaskan menyewa apartemen ketimbang membeli hunian? Yang jelas, entah menempati rumah warisan orang tua atau membeli sendiri, keberadaan rumah bagi generasi ini memiliki karakter berbeda dengan rumah generasi sebelumnya. Sebab, sebuah rumah sangat kuat mencerminkan gaya hidup penghuninya, dan sebaliknya gaya hidup akan memengaruhi desain hunian.

Director of Realty PT PP Urban Budi Suanda mengatakan, kaum milenial membutuhkan hunian yang berada di lokasi strategis, fungsional, berkonsep menarik, dan smart tech. Bahkan, mereka lebih senang dengan lingkungan rumah yang penuh dukungan entrepreneurship, berkualitas, tetapi tentu sangat terjangkau dan mudah dimiliki dengan DP sangat ringan, bebas akad, dan cicilan yang sesuai kemampuan.



“Dalam memilih hunian, milenial cenderung menginginkan rumah dengan harga terjangkau dan memiliki nilai. Hal inilah yang seharusnya ditangkap para pengembang,” ucap Budi.

Budi menyebut bahwa rumah yang dibutuhkan para milenial adalah rumah yang compact, high valuable product, serta didesain sesuai preferensi. Begitu juga dari sisi harga, pengembang bisa menurunkan harga dengan pembayaran yang fleksibel. Jadi, developer perlu memformulasikan produk, desain, dan harga agar sesuai dengan kantong milenial.

Hal ini juga diperkuat pengamat properti Ali Tranghanda. Menurutnya, para pengembang harus mampu mengembangkan hunian yang sesuai untuk kalangan ini.

Misalnya, di area premium seperti Jakarta Barat, ada pengembang yang menjual properti di lahan yang sudah dipetak-petak dengan ukuran tertentu atau kaveling. Setiap kaveling berukuran panjang 5 meter dan lebar 8 meter. Adapun bangunan yang ditawarkan berupa rumah dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk carport, ruang tamu, sekaligus ruang keluarga. Kemudian, lantai kedua dimanfaatkan sebagai kamar tidur. Dengan cara ini, pengembang memasarkan huniannya dengan harga Rp600 juta.

Menurut Ali, dibandingkan apartemen seharga Rp1 miliar, milenial akan lebih tertarik memiliki dua unit hunian tersebut, meski berukuran lebih kecil. “Sekarang hunian yang banyak diburu milenial adalah rumah di bawah harga Rp500 juta,” kata Ali.

Ali juga menyarankan developer agar memanfaatkan keberadaan transportasi publik yang semakin memudahkan mobilitas milenial. Cara ini sangat mendukung strategi menarik minat milenial dalam membeli hunian. Dengan fasilitas transportasi publik, itu akan mendukung mereka dalam beraktivitas. Mereka tidak perlu bersusah payah menggunakan kendaraan pribadi yang berisiko terjebak kemacetan di Ibu Kota dan kesulitan mendapatkan tempat parkir.

Hal ini juga ditegaskan arsitek Mande Austriono. Menurutnya, dengan konsep sekarang, banyak milenial memilih hunian yang berlokasi tidak terlalu jauh dari kegiatan mereka. Itu sebabnya banyak dari mereka yang lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang rumah tapak.

Di sinilah peluang pengembang untuk mengembangkan rumah mungil yang terjangkau kocek mereka dan dekat dengan tempat mereka beraktivitas.

Dengan rumah mungil dan harga terjangkau serta kemudahan akses transportasi, diprediksi milenial mulai memikirkan membeli hunian seperti itu. Apalagi, hunian tersebut dekat lokasi mereka beraktivitas.

“Semakin dekat rumah denganlokasi kegiatan, otomatis hargasemakin mahal atau melihatkemampuan dana yang tidakseberapa, otomatis milenial akanmemilih hunian yang lebih kecil,”ungkap Mande. (Aprilia Sandyna)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak